Oleh: Angginak Sepi Wanimbo – Pegiat Literasi Papua Pegunungan

BerdayaNews.com, Papua — Membaca buku telah lama diakui sebagai jendela ilmu dalam kehidupan manusia. Di era digital yang kian melesat ini, sebagian orang mungkin meragukan apakah membaca buku masih memiliki peran penting. Namun, esensi buku sebagai sumber pengetahuan, ruang pengembangan diri, dan medium refleksi tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagi tanah Papua, membudayakan membaca adalah sebuah urgensi yang mendesak. Melalui buku, anak-anak asli Papua yang belum pernah menginjakkan kaki di luar negeri tidak lagi hanya bergantung pada cerita lisan—yang bisa benar atau salah. Dengan membaca, kita semua bisa keliling dunia secara intelektual, bahkan dari tempat tinggal kita di pedalaman kampung sekalipun.

Budaya literasi inilah yang diyakini mampu membentuk moral, karakter, serta integritas yang kokoh bagi pemuda-pemudi Papua untuk menggerakkan perubahan nyata di berbagai sektor vital; baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun politik.

Tamparan Realitas: Absennya Dorongan Tokoh dan Ancaman Penyakit Sosial

Harus diakui secara jujur, lemahnya gerakan membaca saat ini terjadi karena minimnya dorongan sistematis dari pemerintah daerah, lembaga gereja, tokoh adat, intelektual, hingga para kader terhadap generasi muda.

Baca juga :  Hari Lingkungan Hidup 2026: Hadiri Puncak Peringatan Nasional, Plh Wali Kota Bekasi Dorong Aksi Kolektif 'Indonesia Asri'

Kevakuman ruang literasi ini melahirkan dampak yang memilukan. Banyak anak muda kita yang akhirnya gugur menjadi korban penyakit sosial: terjerumus narkoba, mengisap ganja, mengisap lem aibon, pesta minuman keras (miras), hingga seks bebas. Generasi emas Papua perlahan hilang dan meninggal dunia secara sia-sia.

Untuk menyelamatkan, mencerdaskan, dan mendidik anak-anak muda Papua, kita harus mengobarkan gerakan membaca yang radikal: bergerak dari honai ke honai. Langkah ini penting agar generasi emas Papua memiliki kesadaran kritis dan kecerdasan untuk merebut masa depan yang baik dari sekarang, bukan besok.

Menulis untuk Memecah Kesunyian

Banyak persoalan mendasar di tanah Papua yang berjalan “telanjang” begitu saja di depan mata kita. Sayangnya, banyak pihak yang memilih untuk “seribu diam”. Di sisi lain, wilayah luar atau negara lain menganggap Papua selalu berada dalam kondisi damai tanpa masalah, semata-mata karena minimnya informasi otentik yang keluar dari pemikiran anak daerah.

Oleh karena itu, sudah saatnya anak muda Papua membangkitkan budaya membaca sekaligus menulis. Melalui goresan pena di atas kertas putih, sampaikan masalah dan realitas yang kita hadapi kepada dunia luar agar mereka mengetahui, memahami, dan mendukung perjuangan kita melalui doa dan solidaritas. Hasil pembacaan dan tulisan kritis ini nantinya harus menjadi rujukan utama bagi kebijakan pembangunan di sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga keamanan.

Baca juga :  Perekonomian Nasional Kuat, Pemerintah Siapkan Lanjutan Program Unggulan 2026

Mengonsumsi ‘Makanan Bergizi’ untuk Otak

Secara biologis, manusia tidak dapat beraktivitas jika tubuhnya kekurangan makan dan minum; kita akan jatuh sakit. Hal yang sama berlaku bagi otak. Agar pikiran kita tetap subur, sehat, segar, dan bijaksana dalam menjalankan pelayanan profesi, kita wajib memberikan “makanan bergizi” bagi otak, yaitu dengan meluangkan waktu setidaknya 20 menit sehari untuk membaca buku.

Nutrisi pikiran ini sangat dibutuhkan oleh setiap lapisan profesi yang sedang Anda kerjakan saat ini atas berkat Tuhan:

  • Aparatur Sipil Negara (ASN) & TNI/Polri

  • Politikus & Akademisi

  • Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

  • Pelayan Gereja & Tenaga Pengajar

  • Mahasiswa, Pelajar, & Ibu Rumah Tangga

  • Sopir Taksi, Abang Ojek, hingga Para Petani

Membaca dan menulis akan melahirkan manusia yang kritis, panjang sabar, berwawasan luas, dan bijaksana dalam berbicara. Lebih dari itu, karya tulis adalah satu-satunya cara agar gagasan dan nama Anda tetap hidup dan dikenang sepanjang sejarah peradaban di tanah ini.

Mari pupuk dan rawat budaya ini secara konsisten, baik di pedalaman perkampungan maupun di wilayah perkotaan. Pergunakan waktu dengan efektif dan efisien, serta bangunlah lingkaran pergaulan dengan lingkungan yang sehat dan takut akan Tuhan demi meraih masa depan yang penuh harapan.

Baca juga :  Menepis Isu 'Balas Budi' Perkara: Pemprov Jambi Beberkan Legalitas Hibah Aset Miliaran ke Instansi Vertikal

Syalom, selamat membaca bagi sahabat-sahabatku semua. Tuhan Yesus memberkati. Wa.. wa..

Holandia, 03 Juni 2026 Penulis adalah Pegiat Literasi Papua Pegunungan.

Melihat Lebih Dalam: Tulisan asli dari Angginak Sepi Wanimbo ini merupakan refleksi sosiologis yang jujur mengenai kondisi sumber daya manusia di Papua. BerdayaNews.com memandang bahwa seruan literasi dari honai ke honai ini adalah kritik kebudayaan sekaligus kritik kebijakan bagi pemangku kepentingan di daerah. Ketika dana publik sering kali habis untuk proyek fisik kosmetik, ruang-ruang literasi rakyat justru dibiarkan kering. Kita membutuhkan lebih banyak pemuda yang berani mengangkat pena untuk menyuarakan kebenaran dari wilayah timur Indonesia. (Red/fs)