Oleh: Angginak Sepi Wanimbo – Pegiat Literasi Papua Pegunungan
BerdayaNews.com, Papua – Membaca buku telah lama diakui sebagai jendela ilmu dalam peradaban manusia. Di tengah gempuran era digital yang kian maju, sebagian orang mungkin meragukan apakah membaca buku fisik masih memiliki peran esensial. Namun, urgensi buku sebagai episentrum pengetahuan, media pengembangan diri, dan instrumen pembentuk karakter bangsa sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata.
Bagi tanah Papua, membaca bukan sekadar aktivitas kognitif menerjemahkan barisan kata di atas kertas. Lebih dalam dari itu, literasi adalah sebuah gerakan pembebasan, alat untuk meruntuhkan isolasi geografis, serta benteng pertahanan moral bagi generasi muda.
Melalui budaya membaca, anak-anak asli Papua yang berada di pedalaman kampung maupun di wilayah perkotaan dapat “keliling dunia” secara intelektual. Buku memberikan kepastian fakta sejarah dan kondisi global yang sesungguhnya, memotong ketergantungan pada cerita lisan yang sering kali bias. Literasi secara mutlak membentuk moral, karakter, dan integritas yang teguh untuk menggerakkan perubahan di berbagai sektor vital, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga politik di Bumi Cendrawasih.
Ironi Literasi: Absennya Peran Elit dan Ancaman Penyakit Sosial
Sayangnya, pemandangan kontras masih terjadi di lapangan. Lemahnya gerakan literasi di Papua hari ini tidak lepas dari minimnya dorongan sistematis dari pemerintah daerah, lembaga gereja, tokoh adat, serta kalangan intelektual dalam merangkul generasi muda.
Absennya ruang pembinaan literasi yang inklusif ini berdampak fatal. Banyak pemuda Papua terjebak dan menjadi korban laten dari epidemi sosial, seperti penyalahgunaan ganja, menghirup lem aibon, pesta minuman keras (miras), hingga seks bebas. Akibatnya, banyak potensi hebat dari generasi muda Papua yang harus gugur dan meninggal dunia secara sia-sia di usia produktif mereka.
“Menyelamatkan, mencerdaskan, dan mendidik anak-anak muda Papua harus dimulai dari gerakan membaca yang radikal: bergerak dari honai ke honai. Ini adalah satu-satunya jalan agar Generasi Emas Papua memiliki kesadaran kritis untuk merebut masa depan mereka hari ini, bukan besok,” ujar Angginak Sepi Wanimbo, Pegiat Literasi Papua Pegunungan dalam catatan refleksinya yang diterima BerdayaNews.com.
Menulis untuk Dunia: Menyampaikan Realitas Papua yang Sesungguhnya
Rendahnya budaya membaca dan menulis di atas kertas putih membuat berbagai persoalan krusial di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelanggaran hak-hak dasar di tanah Papua berjalan “telanjang” begitu saja tanpa resolusi. Kondisi ini diperparah oleh sikap acuh tak acuh dan pilihan untuk “seribu diam” dari kelompok yang seharusnya bersuara.
Padahal, wilayah lain di Indonesia hingga dunia internasional sering kali berasumsi bahwa Papua selalu berada dalam kondisi damai tanpa gejolak, karena minimnya informasi otentik yang keluar.
Saatnya pemuda Papua bangkit. Melalui pena dan karya tulis, potret riil dan tantangan yang dihadapi di tanah Papua harus disuarakan ke panggung nasional dan global. Tujuannya jelas: agar dunia luar melihat lebih dalam, memahami substansi masalah, dan memberikan dukungan konkret serta doa. Catatan-catatan dari akar rumput inilah yang nantinya wajib dijadikan rujukan utama dalam perumusan kebijakan pembangunan yang inklusif, adil, dan berpihak pada kemanusiaan.
Menutrisi Otak demi Umur Panjang Peradaban
Sama seperti tubuh fisik manusia yang membutuhkan asupan makanan dan minuman agar terhindar dari penyakit, otak manusia pun memerlukan nutrisi berkualitas agar tetap subur, segar, dan jernih. Makanan bergizi bagi otak tidak lain adalah meluangkan waktu untuk rajin membaca buku, minimal 20 menit setiap hari.
Kebiasaan membaca akan melahirkan pola pikir yang positif, jernih, dan bijaksana. Hal ini berlaku bagi siapa saja tanpa memandang sekat profesi; mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI/Polri, politikus, akademisi, aktivis LSM, pelayan gereja, tenaga pengajar, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga, sopir taksi, abang ojek, dan para petani.
Membaca membuat manusia menjadi kritis, bijaksana, terhormat, panjang sabar, dan sukses mengenal kapasitas dirinya. Lebih dari itu, kolaborasi antara membaca dan menulis adalah cara abadi agar nama dan perjuangan seseorang dikenang sepanjang sejarah peradaban. Mari bangun lingkungan yang sehat, bergaul dengan ekosistem yang visioner, dan jadikan literasi sebagai jalan ninja menyelamatkan masa depan Jambi, Papua, dan Indonesia.
Syalom, selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.
Melihat Lebih Dalam: Kritik tajam dari pegiat literasi Papua Pegunungan ini mengonfirmasi bahwa persoalan utama Papua bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik atau besarnya kucuran dana Otonomi Khusus (Otsus). Tantangan terbesarnya adalah pembangunan manusia. Membiarkan anak-anak muda Papua tanpa akses buku sama saja dengan membiarkan masa depan mereka lumpuh. BerdayaNews.com memandang gerakan dari honai ke honai ini sebagai tamparan keras bagi birokrasi yang gemar menghamburkan anggaran seremonial, namun pelit mengalokasikan dana untuk pengadaan perpustakaan kampung dan ruang baca rakyat. (Red/fs)


