Berdayanews.com, Jayapura – Sebuah momentum berharga tercipta di sela-sela Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) Ke-III yang digelar di Kota Port Numbay, Jayapura, Papua, pada Jumat (29/5/2026). Angginak Sepi Wanimbo, seorang pegiat literasi sekaligus Ketua APS Kabupaten Lanny Jaya, berhasil menyalurkan suara dan isi hati masyarakat adat Papua langsung kepada tokoh nasional, Dedi Mulyadi.
Bagi Sepi, perjalanan ini laksana “terbang tinggi” membawa asa dari pedalaman Tiom, Lanny Jaya, menuju ruang perjumpaan yang melampaui batas jarak antara Papua dan Jawa Barat.
Awalnya, jarak geografis yang membentang luas sempat menjadi dinding pembatas bagi pemuda Papua ini untuk bertemu secara fisik dengan Dedi Mulyadi—sosok pemimpin yang selama ini ia kenal merakyat melalui berbagai media massa. Namun, ruang dan waktu seolah berkonspirasi baik ketika Dedi Mulyadi hadir sebagai salah satu narasumber utama dalam konferensi tersebut.
Diplomasi Literasi: Kado Buku di Atas Noken
Termotivasi oleh kehadiran sang tokoh, Sepi Wanimbo datang dari Tiom menuju Jayapura dengan membawa sebuah tas biru. Alih-alih memberikan cendera mata konvensional seperti noken, gelang, atau kalung, Sepi yang tumbuh sebagai generasi terdidik memilih jalan diplomasi yang lebih mendalam, yaitu literasi.
Di sela-sela agenda pembukaan kegiatan, Sepi berkesempatan langsung menyerahkan dua buah buku berbobot sebagai kado sekaligus representasi kondisi riil Bumi Cendrawasih.
Buku pertama merupakan buah pikirannya sendiri yang berjudul “Transmigrasi dan Hak Atas Tanah Adat Orang Asli Papua”. Sementara buku kedua adalah karya dari teolog dan tokoh gereja Papua, Gembala Socratez Sofyan Yoman, yang berjudul “Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua”.
“Saya melihat Pak Dedi adalah sosok pemimpin yang sering mendengar dan melihat kondisi rakyat bawah. Karena kesempatan berbicara langsung sangat terbatas, saya tidak menyampaikan pesan melalui lisan. Kondisi riil, luka, dan dinamika yang dihadapi oleh masyarakat adat Papua telah terekam dan didokumentasikan dengan rapi melalui pena di dalam kedua buku ini,” ungkap Sepi.
Melalui kedua literatur tersebut, Sepi berharap Dedi Mulyadi dapat membaca, memahami, dan melihat lebih dalam mengenai persoalan mendasar yang dirasakan oleh Orang Asli Papua (OAP) dari masa ke masa.
Pesan Dedi Mulyadi: Merawat Hutan adalah Napas Kehidupan
Kedatangan Sepi Wanimbo beserta buah tangan literasinya disambut hangat dan direspon positif oleh Dedi Mulyadi. Sembari menerima kedua buku tersebut, Dedi menitipkan pesan mendalam yang ditujukan khusus bagi masyarakat adat dan generasi muda Papua.
Dedi menegaskan pentingnya menjaga eksistensi identitas lokal di tengah arus modernisasi dan perubahan regulasi.
“Rawatlah bahasa, budaya, tanah, dan hutan dengan baik. Sebab, napas kehidupan Orang Asli Papua ada di sana. Ketika bahasa, budaya, tanah, dan hutan diambil alih atau dikuasai oleh orang lain, maka kita akan menjadi tamu di negeri sendiri,” ujar Dedi mengingatkan.
Pesan kuat tersebut menjadi refleksi bersama bahwa jika Papua ingin berdiri di atas kakinya sendiri secara bermartabat, maka benteng terakhir yang harus dijaga dengan segenap jiwa adalah kelestarian hutan dan hak atas tanah adat mereka. (Red/fs)


