Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
(Guru Besar Universitas Jambi, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)
BerdayaNews.com, Jambi – Provinsi Jambi kini membidik penguatan ketahanan pangan di wilayah Sumatra melalui transformasi sistemik pada sektor hilir. Upaya ini difokuskan pada penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk mengolah hasil pertanian mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S., mengungkapkan bahwa peningkatan produksi tanpa penguatan hilirisasi justru berisiko menekan harga di tingkat petani. Menurutnya, inovasi sederhana di tingkat lokal menjadi kunci utama stabilitas ekonomi daerah.
“Hilirisasi bukan hanya proses pengolahan, melainkan transformasi sistemik yang menghubungkan produksi, pengolahan, distribusi, dan konsumsi dalam satu rantai nilai yang utuh,” ujar Prof. Haryadi dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Transformasi Sederhana Jadi Inovasi Modern
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Jambi tumbuh 4,93 persen pada 2025 dengan sektor pertanian sebagai tulang punggung. Produksi padi bahkan melonjak 30 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai 366,5 ribu ton gabah kering giling.
Meski produksi melimpah, tantangan utama tetap ada pada pengelolaan pascapanen. Prof. Haryadi menekankan pentingnya TTG untuk mengubah komoditas yang mudah rusak, seperti cabai dan tomat, menjadi produk olahan seperti pasta, bubuk, atau saus.
“Produk olahan menawarkan stabilitas harga yang lebih baik. Ketergantungan terhadap fluktuasi pasar dapat ditekan, sehingga pendapatan petani menjadi lebih terjaga,” lanjutnya.
Potensi Strategis Jambi di Sumatra
Kabupaten Kerinci sebagai pusat produksi cabai merah menyumbang 90 persen hasil provinsi, namun rentan terhadap anjloknya harga saat panen raya. Wilayah lain seperti Batanghari juga menghadapi tekanan distribusi serupa seiring pertumbuhan penduduk.
Penggunaan teknologi sederhana seperti pengeringan dan pengemasan dinilai rasional untuk menekan kehilangan hasil pascapanen (food loss). Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat kehilangan pangan di negara berkembang mencapai 20-30 persen dari total produksi.
Pemerintah daerah diharapkan terus mendorong pelatihan teknologi, akses pembiayaan, dan infrastruktur logistik. Hal ini penting untuk mendukung inklusivitas hilirisasi yang bisa dilakukan oleh kelompok tani maupun usaha rumah tangga.
Membangun Kekuatan Ekonomi Regional
Secara geografis, posisi Jambi di tengah Pulau Sumatra sangat strategis sebagai simpul distribusi pangan regional. Dengan hilirisasi, Jambi tidak hanya menjadi daerah produksi, tetapi juga pusat transformasi pangan yang mandiri.
“Jambi memiliki prasyarat kuat untuk menjadi pusat transformasi pangan. Tantangannya adalah keberanian mengubah cara pandang dari sekadar memproduksi menjadi mengelola nilai tambah,” tegas Prof. Haryadi menutup penjelasannya.
Strategi ini diharapkan mampu menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kokoh bagi masyarakat Jambi di masa depan melalui inovasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Red/fs)


