Oleh: Angginak Sepi Wanimbo (Pegiat Literasi Papua Pegunungan)

BerdayaNews.com, Papua — Buku adalah sahabat sejati bagi siapa saja yang hobi membaca. Lewat lembarannya, kita bisa menangis, tertawa, hingga menyerap rupa-rupa informasi. Dalam dunia pendidikan, kedudukan buku tidak tergantikan; ia adalah ruang curhat sekaligus jendela dunia.

Namun, realita di Papua saat ini cukup memprihatinkan. Kegemaran membaca mulai terkikis, padahal kita hidup di zaman canggih di mana ilmu bisa diakses kapan saja. Gerakan gemar membaca harus dibiasakan sejak dini agar menjadi hobi yang mendarah daging, bukan sekadar pengisi waktu luang.

Buku Sebagai Penjaga dari Kebodohan

Jadikanlah buku sebagai sahabat karibmu, maka ia akan menjagamu dari gelapnya kebodohan. Buku adalah media interaksi yang sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin berpikir kreatif dan inovatif.

Bahkan, buku bisa menjadi “cinta sejati” yang selalu ada saat kita merasa hampa. Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar di dunia ini bangkit karena buku. Buku adalah dokter bagi kebodohan dan motivator di kala sendiri.

Baca juga :  Sekda Jambi Dukung Deklarasi Forum Persatuan Masyarakat Adat Orang Rimba

Membaca: Cara Bertemu Tokoh Besar Papua

Bagi anak muda Papua, mungkin sulit untuk bertemu secara fisik dengan tokoh-tokoh hebat seperti:

  • Socratez Sofyan Yoman, Benny Giay, Dorman Wandikbo

  • Markus Haluk, Fiktor Yeimo, Ripka Haluk

  • Wempi Wetipo, Befa Yigibalom, John Tabo, Ones Pahabol

  • Fince Tebay, Deinas Gelei, Willem Wandik, Aletinus Yigibalom

  • Benny Wenda, Athenus Murip, Briur Wenda, Natalius Pigai, dan tokoh lainnya.

Namun, ada cara sederhana untuk “berdiskusi” dengan mereka: bacalah buku karya mereka. Saat Anda membaca tulisan mereka, saat itulah Anda sedang duduk berdiskusi bersama tokoh-tokoh besar milik orang Papua.

Menghidupkan Budaya Literasi dari Kampung ke Kota

Budaya membawa buku di tangan harus kembali dihidupkan di kalangan anak muda Papua. Membaca bukan hanya di sekolah atau kampus, tapi mulailah dari diri sendiri, di rumah, di Honai, gereja, hingga komunitas literasi.

Seketika kita membaca, kita sedang keliling dunia. Sebaliknya, tanpa membaca, kita seolah berjalan dalam kegelapan. Saat ini, banyak anak muda lebih memilih menghabiskan waktu dengan teknologi (WA, FB, Twitter) daripada mengunjungi toko buku. Teknologi memang membantu, namun jika tidak bijaksana, ia bisa mengalihkan kita dari ilmu yang mendalam.

Baca juga :  MEMBANGUN PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA PAPUA

Membangun Peradaban Lewat Bacaan

Bangsa-bangsa besar seperti Amerika, Israel, atau Iran menjadi kuat karena mereka meningkatkan literasi baca dan tulis. Kebijakan pembangunan mereka berakar dari kedalaman ilmu.

Oleh karena itu, mari kita bersatu hati—pimpinan di Honai, gereja, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi—untuk mengampanyekan gerakan baca buku. Dari gerakan inilah akan lahir kualitas manusia Papua yang unggul di berbagai bidang.

“Bagi pria, jadikan buku sebagai istri pertama; sebaliknya bagi wanita, jadikan buku sebagai suami pertama.”

Selamat membaca bagi sahabat-sahabat yang setia. Mari kita menata masa depan yang lebih baik melalui literasi.

Kinaonak.. wa.. wa.. wa..

TiEyom Tiom, 30 Maret 2026 (Red/fs)