Rilis Februari 2026 Menunjukkan Bahwa Provinsi Jambi Berada Di Jalur Yang Relatif Positif. Tantangan Masih Ada, Namun Fondasi Telah Dibangun”.

BerdayaNews.com, Jambi — Rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Februari 2026 menghadirkan potret yang relatif utuh tentang kondisi ekonomi dan sosial Provinsi Jambi sepanjang tahun 2025. Data-data tersebut bukan sekadar deretan angka, melainkan cermin arah pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Al Haris dan Wakil Gubernur Abdullah Sani pada periode keduanya. Dalam konteks nasional yang masih menghadapi ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, serta tantangan struktural ketenagakerjaan, capaian Jambi patut dibaca secara jernih dan proporsional.

Pertumbuhan ekonomi Jambi tahun 2025 tercatat 4,93 persen (c-to-c). Angka ini menegaskan bahwa roda perekonomian daerah tetap bergerak stabil, bahkan menunjukkan penguatan dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih jauh, pada Triwulan IV 2025, ekonomi Jambi tumbuh 5,24 persen (y-on-y) dan 1,30 persen (q-to-q). Kombinasi pertumbuhan tahunan dan triwulanan ini menandakan bahwa aktivitas ekonomi tidak bersifat musiman, tetapi berjalan berkelanjutan.

Dalam perspektif makro, pertumbuhan tersebut mencerminkan keberhasilan pemerintah daerah menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memanfaatkan momentum pemulihan pascapandemi. Stabilitas ini menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan pembangunan sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Struktur Ekonomi yang Realistis dan Mengakar

Rilis BPS juga menegaskan karakter dasar ekonomi Jambi yang masih bertumpu pada sektor primer. Pertanian, Perkebunan, kehutanan, dan perikanan kembali menjadi sumber pertumbuhan tertinggi pada 2025 dengan kontribusi 1,48 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi. Bagi sebagian kalangan, dominasi sektor primer sering dipandang sebagai kelemahan struktural. Namun bagi Jambi, realitas ini justru mencerminkan kesesuaian antara kebijakan pembangunan dan struktur sosial-ekonomi masyarakatnya.

Sebagian besar penduduk Jambi masih hidup dari sektor agraris. Oleh karena itu, menjaga produktivitas, stabilitas harga, serta akses pasar bagi petani dan nelayan bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga kebijakan sosial. Dalam konteks ini, kepemimpinan Haris–Sani dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan fondasi ekonomi rakyat sembari membuka ruang bagi diversifikasi sektor.

Baca juga :  Presiden Prabowo Pastikan Penanganan Bencana di Aceh–Sumut Terkendali: Akses Terbuka, Pengungsi Terlayani

Sektor perdagangan, industri pengolahan, dan pertambangan tetap memberi kontribusi signifikan, meskipun dengan dinamika yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Jambi tidak sepenuhnya bertumpu pada satu sektor, melainkan memiliki beberapa penyangga yang saling melengkapi.

Pertumbuhan yang Diikuti Penurunan Kemiskinan

Salah satu indikator paling krusial dalam menilai keberhasilan pembangunan adalah dampaknya terhadap kemiskinan. Rilis BPS 5 Februari 2026 mencatat bahwa jumlah penduduk miskin Provinsi Jambi pada September 2025 sebesar 261,25 ribu orang, menurun 9,69 ribu orang dibandingkan Maret 2025, serta lebih rendah dibandingkan September 2024.

Secara persentase, tingkat kemiskinan turun menjadi 6,89 persen, atau turun 0,30 persen poin. Penurunan ini penting dicatat karena terjadi di tengah tekanan ekonomi global dan nasional. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak berhenti di level makro, tetapi mulai merembes ke lapisan masyarakat bawah.

Penurunan kemiskinan ini tidak dapat dilepaskan dari kombinasi kebijakan pemerintah daerah, mulai dari pengendalian inflasi, perlindungan sosial, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan bahwa penurunan kemiskinan bersifat berkelanjutan dan tidak mudah tergerus oleh guncangan ekonomi.

Ketimpangan yang Semakin Menyempit

Selain kemiskinan, ketimpangan pendapatan menjadi indikator penting kualitas pembangunan. Data Gini Ratio Provinsi Jambi Maret 2020–September 2025 menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada September 2025, Gini Ratio gabungan perkotaan dan perdesaan berada di angka 0,291, menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan ini menunjukkan bahwa distribusi hasil pembangunan relatif semakin merata. Ketimpangan di wilayah perkotaan dan perdesaan sama-sama mengalami perbaikan, meskipun dengan tingkat yang berbeda. Dalam konteks kebijakan publik, ini menjadi sinyal bahwa pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi, tetapi mulai menjangkau wilayah pinggiran.

Baca juga :  Kemenhut Tindak 11 Entitas Usaha Diduga Terlibat Kerusakan Hutan Pemicu Banjir di Sumut

Bagi daerah seperti Jambi, yang memiliki karakter geografis dan sosial yang beragam, pengurangan ketimpangan menjadi kunci menjaga kohesi sosial dan stabilitas politik. Tanpa pemerataan, pertumbuhan ekonomi justru berpotensi melahirkan ketegangan sosial di kemudian hari.

Ketenagakerjaan: Kuantitas dan Kualitas

Rilis BPS juga memberikan gambaran rinci mengenai kondisi ketenagakerjaan. Pada November 2025, penduduk usia kerja Provinsi Jambi mencapai 2,84 juta orang, dengan angkatan kerja sebesar 1,94 juta orang. Dari jumlah tersebut, 1,86 juta orang tercatat bekerja, sementara jumlah pengangguran menurun menjadi 79,22 ribu orang.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,08 persen, melanjutkan tren penurunan sejak Februari 2024. Penurunan TPT ini menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja tetap berlangsung, meskipun tantangan struktural masih membayangi, terutama terkait dominasi sektor informal dan kualitas pekerjaan.

Yang menarik, data juga menunjukkan peningkatan jumlah pekerja penuh, sementara setengah pengangguran mengalami penurunan. Ini mengindikasikan perbaikan kualitas penyerapan tenaga kerja, bukan sekadar peningkatan angka bekerja secara nominal.

Membaca Data dengan Kacamata Kebijakan

Dalam diskursus publik, kinerja pemerintah daerah kerap dinilai secara simplistis: berhasil atau gagal. Padahal, data BPS 2025 menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks. Ada capaian yang patut diapresiasi, ada pula pekerjaan rumah yang belum selesai.

Kepemimpinan Haris–Sani periode kedua dapat dibaca sebagai fase konsolidasi pembangunan. Fokusnya bukan hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi menjaga stabilitas, memperkuat fondasi ekonomi rakyat, serta memastikan hasil pembangunan lebih merata. Dalam konteks ini, pendekatan gradual dan realistis menjadi pilihan yang masuk akal.

Baca juga :  MEMBANGUN PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA PAPUA

Namun demikian, tantangan ke depan justru semakin besar. Ketergantungan pada sektor primer, meskipun memberikan stabilitas, perlu diimbangi dengan upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi akan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.

Harapan ke Depan: Dari Stabilitas ke Transformasi

Rilis BPS 5 Februari 2026 memberi modal optimisme bagi Provinsi Jambi. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga, kemiskinan yang menurun, ketimpangan yang menyempit, serta pengangguran yang berkurang merupakan fondasi penting untuk melangkah ke fase berikutnya : transformasi ekonomi.

Ke depan, tantangan utama Jambi adalah bagaimana mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Hilirisasipertanian, penguatan UMKM, peningkatan KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA, serta percepatan pembangunan infrastruktur yang berkeadilan menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Dalam konteks inilah, kepemimpinan Haris–Sani diuji. Apakah capaian stabilitas ini mampu diterjemahkan menjadi lompatan pembangunan yang lebih progresif? Jawabannya akan sangat bergantung pada keberanian kebijakan, konsistensi implementasi, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor.

Data BPS tidak pernah berdiri untuk membela atau menyalahkan siapa pun. Ia hanya merekam realitas. Rilis 5 Februari 2026 menunjukkan bahwa Provinsi Jambi berada di jalur yang relatif positif. Tantangan masih ada, namun fondasi telah dibangun.

Kini, harapan publik bertumpu pada langkah-langkah lanjutan. Agar pertumbuhan tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga inklusif dan berdaya saing. Agar Jambi tidak sekadar tumbuh, tetapi benar-benar maju.

Referensi

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi Tahun 2025, rilis 5 Februari 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Profil Kemiskinan Provinsi Jambi, September 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Gini Ratio Provinsi Jambi Maret 2020–September 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jambi, November 2025.fs