BerdayaNews.com, MANCANEGARA – Pada perayaan Natal, para Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem menyampaikan pesan iman dan harapan bagi umat Kristen di seluruh dunia. Mereka mengajak semua orang untuk terus memanjatkan doa bagi warga Tanah Suci yang masih hidup dalam bayang-bayang konflik, sekaligus memperjuangkan perdamaian yang sejati dan berkeadilan.

Seperti dilansir aleteia.org pada 22 Desember, para pemimpin Gereja menegaskan bahwa meski kawasan tersebut telah mengalami kesulitan berat selama dua tahun terakhir, umat Kristen yang tinggal di tanah kelahiran dan kehidupan Yesus tetap menemukan pengharapan dalam makna Natal.

“Kami, para Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem, mengikuti teladan Tuhan kita dalam Inkarnasi-Nya, terus berdiri dalam solidaritas dengan semua orang yang menderita dan putus asa,” demikian bunyi pernyataan bersama itu. Mereka juga menyerukan agar umat Kristen dan semua orang yang berkehendak baik di seluruh dunia terus berdoa serta bekerja demi perdamaian yang adil—bukan hanya di Tanah Suci, tetapi di seluruh bumi.

Kelompok ekumenis para pemimpin Gereja tersebut mencakup berbagai denominasi Kristen, termasuk Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem yang memimpin umat Katolik ritus Latin di wilayah tersebut.

Baca juga :  Budaya Laporan ABS dan Blusukan Pejabat, Cermin Birokrasi Lemah: Ahli Pemerintahan Minta Reformasi Total

Para pemimpin Gereja mengingatkan bahwa kondisi sulit yang dialami saat ini sejatinya mencerminkan situasi pada masa kelahiran Yesus. Kala itu, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada para gembala dan memanggil mereka untuk menyingkirkan ketakutan, membawa kabar sukacita tentang kelahiran Kristus Tuhan.

“Di hadapan palungan di gua suci, para gembala pertama kali menyaksikan karunia kasih Allah yang penuh rahmat,” ungkap pernyataan tersebut. Inkarnasi Kristus dipahami sebagai wujud belas kasih Allah yang mengambil rupa manusia, hidup di tengah penderitaan umat-Nya, memberitakan pertobatan dan penebusan, melayani yang tertindas, hingga mengorbankan diri demi kebangkitan kehidupan baru.

Para Patriark dan Kepala Gereja juga menyambut gembira adanya gencatan senjata yang memungkinkan lebih banyak tempat merayakan Natal secara terbuka. Namun, mereka mengingatkan pesan Nabi Yeremia tentang bahaya mengucap “damai, damai” ketika damai sejati belum terwujud. Faktanya, ratusan orang masih kehilangan nyawa atau mengalami luka parah, dan kekerasan terus terjadi di negara-negara sekitar Tanah Suci.

Meski demikian, pesan Natal tetap ditegaskan: bagi mereka yang menderita, harapan sejati tetap ada di dalam Kristus—sumber utama pengabdian dan kekuatan rohani umat beriman. Para pemimpin Gereja mendorong umat untuk terus mencari kekuatan kepada-Nya, seraya Gereja universal berupaya meringankan penderitaan dan meneguhkan ketekunan dalam karya kasih.

Baca juga :  Pameran Kinerja Kejaksaan On The Spot 2025: Wujud Nyata Keterbukaan Informasi Publik dan Edukasi Hukum bagi Masyarakat

Mengakhiri pesannya, para Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem menyampaikan ucapan selamat Natal kepada seluruh umat. “Semoga Anda dan orang-orang terkasih memperoleh sukacita dan kedamaian yang lahir dari perjumpaan dengan kasih Allah yang tak terbatas—yang dinyatakan secara nyata dalam kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus di Betlehem.”

Selamat Natal. Damai di bumi, harapan bagi dunia. fs