Penulis: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP – Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

BerdayaNews.com, Jambi – Kawasan pesisir timur Provinsi Jambi yang meliputi Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki posisi strategis dalam peta ekonomi regional Sumatera. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari perkebunan kelapa sawit, kelapa, pinang, perikanan tangkap dan budidaya, migas, hingga sektor pelabuhan dan logistik, kawasan ini menyimpan peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Jambi.

Namun demikian, tantangan pembangunan saat ini tidak lagi sebatas meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah bagaimana mengubah kekayaan sumber daya tersebut menjadi nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pertumbuhan Ekonomi Positif, Struktur Ekonomi Masih Didominasi Komoditas Primer

Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP, menilai akselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas harus mampu memperkuat kapasitas manusia, meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah industri, serta memperkuat ketahanan fiskal daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Kabupaten Tanjung Jabung Barat pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,28 persen, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 4,45 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp61,82 triliun dengan PDRB per kapita sekitar Rp182,03 juta.

Meski mencatat pertumbuhan yang positif, struktur ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang masih mengandalkan sektor-sektor berbasis sumber daya alam sebagai penggerak utama perekonomian.

Baca juga :  Selesaikan Sengketa Lahan, Sekda Kota Bekasi Teken Draft Perubahan Batas Wilayah Bekasi–Jakarta Timur

Hilirisasi Jadi Jalan Keluar dari Ketergantungan Komoditas Mentah

Menurut Yulfi, keberhasilan pembangunan ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah melakukan transformasi ekonomi melalui hilirisasi.

Hilirisasi tidak hanya dimaknai sebagai proses mengolah bahan baku menjadi produk jadi, tetapi juga upaya menciptakan rantai nilai ekonomi yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat lokal. Selama ini sebagian besar komoditas unggulan daerah masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya lebih banyak dinikmati di luar daerah.

“Sawit masih banyak dijual dalam bentuk bahan baku, kelapa belum diolah secara optimal, dan hasil perikanan sebagian besar masih dipasarkan sebagai komoditas dasar. Akibatnya, nilai tambah ekonomi belum sepenuhnya dinikmati masyarakat di daerah penghasil,” tulisnya.

SDM Menjadi Fondasi Utama Transformasi Ekonomi

Yulfi menegaskan bahwa hilirisasi tidak akan berhasil tanpa didukung kualitas sumber daya manusia yang memadai. Oleh karena itu, pembangunan SDM harus menjadi prioritas utama dalam agenda transformasi ekonomi pesisir timur Jambi.

Industri pengolahan kelapa, sawit, pinang, maupun perikanan membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang lebih kompleks dibanding aktivitas produksi primer. Mulai dari kemampuan teknis pengolahan, pengendalian mutu, manajemen rantai pasok, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Keberhasilan hilirisasi, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah pabrik yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk, tetapi sejauh mana masyarakat lokal mampu menjadi bagian utama dalam ekosistem industri yang berkembang.

Baca juga :  Ketahanan Pangan Jambi Diperkuat Melalui Hilirisasi Teknologi Tepat Guna

Kelapa Berpotensi Menjadi Industri Andalan Pesisir Timur

Salah satu potensi terbesar yang dimiliki kawasan pesisir timur Jambi adalah komoditas kelapa rakyat. Selama ini kelapa masih didominasi sebagai komoditas primer, padahal memiliki rantai industri yang sangat luas dan bernilai ekonomi tinggi.

Produk turunan kelapa mencakup kopra, minyak kelapa, santan industri, arang tempurung, cocopeat, cocofiber, hingga berbagai produk pangan dan kosmetik yang memiliki pasar nasional maupun internasional.

Jika hilirisasi kelapa mampu dikembangkan melalui kemitraan industri yang kuat dan didukung kelembagaan ekonomi masyarakat, maka nilai tambah yang tercipta akan mampu memperkuat ekonomi desa sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Reformasi Birokrasi dan Infrastruktur Harus Berjalan Bersama

Selain SDM dan hilirisasi, reformasi tata kelola pemerintahan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi.

Investor tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kepastian regulasi, efisiensi birokrasi, kualitas pelayanan publik, serta kemudahan berusaha. Daerah yang memiliki birokrasi cepat dan adaptif akan lebih kompetitif dibanding daerah yang masih terjebak dalam pola administrasi yang lambat dan berbelit-belit.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur harus diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi produktif. Jalan produksi, pelabuhan, kawasan logistik, telekomunikasi, cold storage, pergudangan, hingga infrastruktur energi merupakan faktor strategis yang menentukan daya saing kawasan pesisir timur Jambi.

Peran UMKM, BUMDes dan Koperasi Merah Putih

Transformasi ekonomi juga membutuhkan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat. Dalam hal ini, UMKM, BUMDes dan Koperasi Merah Putih memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dengan akses pembiayaan, teknologi, pemasaran, dan kemitraan industri.

Baca juga :  Peran Strategis Jambi di Sumatera Perlu Diperkuat

Melalui penguatan kelembagaan ekonomi desa, manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat hingga tingkat rumah tangga.

Integrasi Kawasan Jadi Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Yulfi juga menekankan pentingnya membangun keterhubungan fungsi ekonomi antardaerah. Kawasan pesisir timur Jambi perlu dikembangkan sebagai satu ekosistem ekonomi yang saling menopang antara sentra produksi, pusat pengolahan, pelabuhan, logistik, dan jaringan distribusi.

Dengan pendekatan tersebut, rantai ekonomi daerah tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi berkembang menjadi sumber penciptaan nilai tambah, lapangan kerja baru, dan penguatan ketahanan fiskal daerah.

Membangun Masa Depan dari Nilai Tambah

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur tidak hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan daerah membangun masyarakat yang produktif, birokrasi yang modern, serta struktur ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Pesisir timur Jambi memiliki semua modal dasar untuk tumbuh menjadi kawasan ekonomi unggulan. Tantangannya kini adalah bagaimana mengorkestrasi pembangunan SDM, hilirisasi industri, penguatan kelembagaan ekonomi rakyat, reformasi birokrasi, dan pembangunan infrastruktur dalam satu arah kebijakan yang terintegrasi.

Karena pada akhirnya, masa depan kawasan ini tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai tambah, produktivitas, dan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat. (Red/fs)