Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. (Pakar Ekonomi / Guru Besar & Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)

BerdayaNews.com, Jambi — Di peta administrasi Provinsi Jambi, Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat merupakan dua kabupaten yang berbeda sejak pemekaran wilayah tahun 1999. Namun, dari perspektif sejarah, geografi, ekonomi, dan masa depan pembangunan, keduanya sesungguhnya merupakan satu kesatuan kawasan strategis yang tidak dapat dipisahkan.

Kedua wilayah ini dialiri sungai yang sama, menghadap laut yang sama, dan memiliki ruang ekonomi yang saling terhubung erat sebagai beranda timur Provinsi Jambi. Di kawasan inilah Sungai Batanghari bermuara, berhadapan langsung dengan jalur perdagangan internasional di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Paradox Makroekonomi: Angka Tinggi vs Kesejahteraan Riil

Keunggulan geografis tersebut diperkuat oleh kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tanjung Jabung Barat selama puluhan tahun menjadi penopang utama energi daerah melalui sektor minyak dan gas bumi (migas).

Besarnya aktivitas ekonomi di hilir Jambi ini tercermin secara gamblang pada data Jambi Data Analytics Center (JDAC) tahun 2024:

  • PDRB per kapita Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencapai sekitar Rp166,33 juta per tahun, menempatkannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Jambi.

  • PDRB per kapita Kabupaten Tanjung Jabung Timur mencatatkan angka sekitar Rp114,22 juta per tahun.

Baca juga :  Refleksi Hari Lahir Pancasila: Ironi Daerah Penghasil Kaya Sumber Daya yang Hanya Jadi Penonton Ekonomi

Angka makro ekonomi yang fantastis ini membuktikan bahwa Tanjung Jabung adalah pusat kekuatan ekonomi Jambi. Namun, tingginya angka tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah lompatan ekonomi itu telah sepenuhnya berubah menjadi kesejahteraan yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal?

Tantangan Logika Kawasan: Terjebak Ego Sektoral dan Komoditas Mentah

Kekuatan Tanjung Jabung sebenarnya tidak hanya bertumpu pada sektor migas di bawah tanah. Di atas tanah, kawasan ini adalah sentra perkebunan rakyat yang masif. Tanjung Jabung Timur memiliki areal sawit rakyat lebih dari 58 ribu hektare. Selain itu, pesisir pantai ini adalah salah satu sentra kelapa terbesar di Jambi, serta eksportir pinang utama ke India, Pakistan, hingga Bangladesh.

Namun, besarnya potensi tersebut belum tertransformasi menjadi nilai tambah ekonomi yang optimal akibat tantangan tata kelola. Selama bertahun-tahun, pembangunan masih bergerak mengikuti logika sektoral yang parsial, bukan logika kawasan yang terintegrasi.

Akibatnya, daerah ini terjebak pada dominasi aktivitas ekonomi berbasis komoditas primer (mentah):

  1. Sektor Migas: Diproduksi dalam jumlah besar, tetapi rantai nilai ekonominya lebih banyak berkembang di luar daerah.

  2. Sektor Perkebunan: Komoditas sawit, kelapa, dan pinang sebagian besar masih dilempar ke pasar dalam bentuk bahan mentah tanpa pengolahan.

  3. Sektor Perikanan: Potensi kelautan yang melimpah belum ditopang oleh industri pengolahan modern dan logistik rantai dingin (cold chain) yang memadai.

Baca juga :  Ketahanan Pangan Jambi Diperkuat Melalui Hilirisasi Teknologi Tepat Guna

Masa depan pembangunan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang diekstraksi keluar, melainkan oleh kemampuan melakukan hilirisasi. Kawasan ini tidak boleh sekadar menjadi penonton atau pintu keluar bahan baku.

Menggagas Hilirisasi Industri Kelapa Terpadu

Di antara berbagai potensi yang ada, komoditas kelapa menawarkan peluang transformasi ekonomi paling menjanjikan untuk menjadi mesin pertumbuhan baru di masa depan. Kelapa tidak boleh lagi dipandang sebagai komoditas tradisional.

Hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global:

  • Daging Buah: Diolah menjadi virgin coconut oil (VCO) dan santan industri.

  • Tempurung Kelapa: Menghasilkan arang berkualitas tinggi dan karbon aktif untuk industri farmasi serta teknologi.

  • Sabut Kelapa: Diolah menjadi coco fiber dan coco peat untuk kebutuhan hortikultura internasional.

Oleh karena itu, pembangunan Kawasan Industri Kelapa Terpadu layak menjadi agenda strategis nasional dan daerah bagi Tanjung Jabung. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah dan akses pelabuhan yang dekat dengan jalur Selat Malaka, ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, UMKM, dan industri pengolahan harus segera diciptakan.

Baca juga :  Peringati Hari Buruh 2026, Gubernur Al Haris Dorong Sinergi demi Kemajuan Industri Jambi

Menolak Fragmentasi, Membangun Sinergi Maritim

Perspektif pembangunan modern menuntut perubahan cara pandang radikal terhadap hubungan Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat. Pemekaran administrasi tidak boleh berubah menjadi fragmentasi politik yang memutus nadi ekonomi kawasan.

Tanjung Jabung Barat kuat di sektor energi, perdagangan, dan pelabuhan. Sementara Tanjung Jabung Timur unggul di sektor perikanan, perkebunan, dan ekonomi kelautan (ekonomi biru). Perbedaan ini adalah modal utama untuk membangun koridor ekonomi pesisir Jambi yang solid.

Daerah yang besar tidak lahir semata-mata karena kekayaan alamnya, melainkan karena keberanian kepemimpinannya untuk mengubah potensi menjadi produktivitas, dan mengubah peluang menjadi kemajuan nyata. Jika lompatan tata kelola dan hilirisasi ini mampu diwujudkan secara kolektif, Tanjung Jabung akan berdiri tegak tidak hanya sebagai beranda energi, melainkan sebagai penentu arah masa depan ekonomi Provinsi Jambi pada dekade-dekade mendatang. (Red/fs)