BerdayaNews.com, Rote Ndao – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk menghentikan ekspor bahan mentah komoditas daerah. Langkah ini diwujudkan lewat dorongan masif terhadap modernisasi dan hilirisasi industri rumput laut di wilayah beranda terdepan Indonesia.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Wapres Gibran saat berdialog langsung dengan ratusan petani rumput laut di Pantai Mulut Seribu, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (22/5).
Kunjungan kerja ini merupakan pengejawantahan dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan nasional dan hilirisasi komoditas unggulan sebagai pilar utama ekonomi. Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan menginstruksikan agar nilai tambah dari hasil bumi harus dinikmati langsung oleh masyarakat lokal, bukan justru dilarikan ke luar negeri dalam bentuk raw material.
“Hari ini kami khusus ke Rote untuk meninjau pabrik garam dan juga rumput laut. Kita lihat tadi sebenarnya potensinya luar biasa, tapi belum benar-benar dimaksimalkan,” ujar Wapres Gibran di hadapan warga pesisir.
Serapan Aspirasi: Dari Tali Nilon hingga “Sengatan” Karaginan Rote
Dalam dialog hangat tersebut, sekitar 300 petani rumput laut Desa Daiama blak-blakan mengenai keterbatasan fasilitas yang mereka hadapi. Kelompok tani dan ibu-ibu pesisir mengajukan permohonan bantuan modal usaha serta pemenuhan alat produksi krusial, antara lain:
-
Tali nilon ukuran 8 mm dan 2 mm.
-
Bibit rumput laut berkualitas.
-
Sampan fiber untuk mobilisasi.
-
Mesin ketinting kapasitas 0,5 GT.
Mendengar keluhan tersebut, Wapres Gibran mengakui proses produksi di Rote Ndao masih terpasung oleh metode yang sangat tradisional. Padahal, kualitas rumput laut dari pulau terselatan Indonesia ini tergolong kelas dunia berkat kandungan karaginan yang sangat tinggi.
“Saya lihat tadi memang alat-alat yang digunakan masih sangat tradisional sekali. Padahal, kalau kita sekarang sudah menjadi salah satu produsen dan eksportir rumput laut terbesar di dunia, kita tidak boleh mengirim barang mentah terus. Jadi harus bisa diolah di sini, Pak. Harus ada hilirisasi rumput laut,” cetus Wapres.
Cetak Biru Modernisasi Hulu ke Hilir
Guna mendongkrak produktivitas, Wapres Gibran memaparkan rencana modernisasi total pada seluruh rantai pasok rumput laut di Rote Ndao. Pemerintah pusat akan mengintervensi dari sektor hulu hingga hilir agar produk lokal memiliki daya saing global.
| Fase Produksi | Rencana Intervensi Modernisasi |
| Sektor Hulu (Budidaya) | Distribusi bibit unggul varietas baru, perbaikan alat produksi, dan pengadaan sampan fiber modern. |
| Sektor Hilir (Pascapanen) | Penyediaan mesin pengering mekanis, pembangunan gudang komoditas, fasilitas sortir, serta pabrik pengemasan (packaging). |
Wapres meyakini, dengan metode tradisional saja hasil yang didapat petani sudah cukup menjanjikan, apalagi jika sentuhan teknologi mulai diterapkan.
Instruksi Tegas untuk Pemda: Data Harus Akurat!
Menutup dialog, Wapres Gibran memberikan instruksi khusus kepada jajaran pemerintah daerah untuk segera melakukan penataan dan pendataan menyeluruh (data by name by address). Langkah ini wajib dilakukan agar seluruh bantuan dan intervensi anggaran dari pemerintah pusat nantinya jatuh ke tangan yang tepat.
“Saya minta Pemda mendata secara detail. Jangan sampai bantuan yang turun nanti tidak merata atau salah sasaran,” pungkasnya.
Turut mendampingi Wapres dalam peninjauan strategis tersebut antara lain Gubernur NTT Melki Laka Lena, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Wakil Bupati Apremoi Dedelusy Dethan, serta Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Rote Ndao Jems Riwu. Kunjungan ini membawa angin segar bagi asa baru kemandirian ekonomi masyarakat pesisir Rote Ndao. (Red/fs)


