BerdayaNews.com, Manchester – Era baru di Etihad Stadium tampaknya akan segera dimulai. Pelatih Chelsea saat ini, Enzo Maresca, dikabarkan selangkah lagi menjadi suksesor Pep Guardiola di Manchester City. Juru taktik asal Italia tersebut dilaporkan telah mencapai kesepakatan lisan untuk mengambil alih kursi manajer jika Guardiola resmi menyudahi masa baktinya di akhir musim ini.
Nama Maresca mencuat ke permukaan setelah sejumlah media Inggris melaporkan bahwa Guardiola memilih mengakhiri masa pengabdiannya bersama The Citizens lebih cepat. Meskipun kontraknya masih tersisa hingga musim depan, pelatih asal Spanyol tersebut berniat mengaktifkan klausul khusus yang memungkinkannya hengkang pada musim panas ini.
Mengapa Pep Guardiola Pergi dan Ke Mana Selanjutnya?
Keputusan Guardiola untuk menyudahi era emasnya di City setelah hampir satu dekade (sejak 2016) didasari oleh kejenuhan emosional dan keinginannya mencari tantangan baru. Setelah mempersembahkan semua trofi muktahir—mulai dari dominasi Premier League hingga trofi Liga Champions—Guardiola merasa siklusnya bersama City telah mencapai puncaknya.
Mengenai rencana selanjutnya, Guardiola santer dikabarkan tidak akan langsung melatih klub lain. Ia berencana mengambil masa rehat (sabbatical leave) selama satu tahun untuk menyegarkan pikiran. Kendati demikian, laporan internal menyebutkan bahwa target jangka panjang Guardiola adalah menakhodai tim nasional, dengan timnas Brasil, Inggris, atau Amerika Serikat sebagai destinasi potensial jelang Piala Dunia.
Enzo Maresca: Suksesor Berdarah Pep Guardiola
Maresca dinilai sebagai suksesor paling ideal karena ia bukan orang asing di Manchester. Sebelum membawa Leicester City promosi dan menakhodai Chelsea, ia adalah mantan asisten kepercayaan Guardiola di City dan pelatih tim EDS (Elite Development Squad) Manchester City. Ia sudah mengakar dengan filosofi dasar klub.
Namun, meski Maresca kerap dijuluki “klon” dari Guardiola, keduanya memiliki beberapa perbedaan mendasar dalam pendekatan permainan di lapangan.
Perbedaan Taktis: Pep Guardiola vs Enzo Maresca
1. Pendekatan Positional Play (Struktur vs Fluiditas)
Pep Guardiola: Sangat mengutamakan fluiditas dan rotasi posisi yang dinamis. Guardiola terkenal radikal dengan eksperimen taktisnya, seperti mengubah bek tengah menjadi gelandang bertahan (inverted fullback) secara ekstrem di tengah laga, atau bermain tanpa striker murni (false nine).
Enzo Maresca: Lebih kaku dan disiplin dalam menjaga struktur. Maresca menerapkan formasi possession berbasis 3-2-4-1 atau 2-3-5 yang sangat rapi. Ia jarang melakukan rotasi posisi yang ekstrem di tengah laga, melainkan menuntut pemainnya memindahkan bola dengan sabar secara horizontal hingga celah di lini pertahanan lawan terbuka.
2. Pola Penyerangan dan Kecepatan Transisi
Pep Guardiola: Permainan City di bawah Pep berevolusi menjadi lebih vertikal dan mematikan, memanfaatkan insting gol predator seperti Erling Haaland, didukung umpan-umpan cut-back cepat dari sektor sayap.
Enzo Maresca: Mengadopsi prinsip slow-cooking chess. Pola serangannya cenderung lebih lambat dengan mengandalkan umpan pendek dari kaki ke kaki (build-up dari kiper) guna memancing pressing lawan, sebelum mengeksploitasi area half-space.
3. Fleksibilitas Game-Plan
Pep Guardiola: Kaya akan taktik bunglon dan adaptif terhadap kekuatan lawan di kompetisi besar.
Enzo Maresca: Memiliki idealisme yang sangat tinggi pada satu pakem operan pendek. Maresca jarang mengubah rencana utama (Plan A), melainkan menyempurnakan Plan A tersebut agar tidak bisa dibaca musuh.
Meneruskan estafet kepelatihan dari manajer yang mempersembahkan belasan trofi sejak 2016 tentu akan menjadi tekanan luar biasa bagi Enzo Maresca. Namun, dengan pondasi skuad yang sudah memahami prinsip sepak bola menyerang, publik Etihad berharap Maresca mampu menjaga identitas sekaligus melanjutkan kedigdayaan Manchester City di Inggris dan Eropa.
Editor: Redaksi Berdayanews.com/fs


