BerdayaNews.com, Jambi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jambi dinilai mampu memberikan dampak langsung terhadap penguatan ekonomi daerah. Perputaran anggaran program tersebut bahkan mencapai Rp7,2 miliar setiap hari di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.

Hal itu disampaikan Gubernur Jambi, Al Haris, saat menghadiri Rapat Konsolidasi Pelaksanaan MBG bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), jajaran pemerintah daerah, pengelola SPPG, mitra, dan relawan di BW Luxury Hotel, Sabtu, 2 Mei 2026.

Menurut Al Haris, pelaksanaan Program MBG di Jambi terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini telah terbentuk 205 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terdiri dari 173 unit operasional dan 32 unit siap operasional.

Selain itu, sebanyak 302 SPPG lainnya masih berada dalam tahap persiapan dan survei lapangan.

“Program ini bukan hanya fokus pada pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetapi juga berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Al Haris.

Ia menjelaskan, kebutuhan bahan pangan dalam program MBG membuat hasil pertanian dan peternakan lokal semakin terserap di dalam daerah. Kondisi tersebut dinilai membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Baca juga :  “Di Atas Hamparan Es Safir: 7 Tarian yang Menghipnotis Peradaban”

Al Haris mengatakan, sebelumnya banyak hasil produksi pangan dari Jambi dipasarkan keluar daerah. Namun kini kebutuhan lokal meningkat seiring berjalannya Program MBG.

Pemerintah Provinsi Jambi juga terus mendorong peningkatan produksi pangan, terutama beras, untuk mendukung keberlanjutan program tersebut. Saat ini, kemampuan pemenuhan kebutuhan beras di Jambi masih berada di kisaran 71 persen.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, menyebut jumlah penerima manfaat Program MBG di Provinsi Jambi mencapai 446 ribu orang.

Program tersebut melibatkan 545 pemasok dalam rantai pasok pangan lokal.

Sony menjelaskan, dana Rp7,2 miliar yang berputar setiap hari digunakan untuk honor tenaga kerja dan relawan, biaya operasional, serta pembelian bahan pangan lokal seperti beras, telur, ayam, buah, dan sayuran.

“Dana itu langsung bergerak di tingkat bawah karena SPPG berada di desa-desa. Dampaknya dirasakan petani, peternak, pedagang beras, hingga penjual sayur dan buah,” katanya.

BGN juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak melakukan penyimpangan dalam pengelolaan rantai pasok maupun pengadaan barang. Satgas MBG di daerah diminta memastikan penyerapan produk lokal berjalan optimal dan sesuai ketentuan.

Baca juga :  Tri Adhianto Luncurkan Selasa Bahagia Sebagai Gerakan Sedekah Baru di Bekasi

Sony menegaskan sasaran utama Program MBG tetap difokuskan pada kelompok rentan, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dalam masa 1.000 hari pertama kehidupan.

Untuk menjaga kualitas layanan, BGN akan menerapkan sistem evaluasi berbasis aplikasi mulai pekan depan. Melalui sistem tersebut, penerima manfaat dapat memberikan penilaian terkait kualitas makanan, ketepatan distribusi, hingga pelaksanaan standar operasional prosedur.

Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman, menyampaikan bahwa rapat konsolidasi menjadi langkah evaluasi bersama agar pelaksanaan Program MBG semakin optimal dan tepat sasaran.

Pemerintah Provinsi Jambi juga mendorong penguatan rantai pasok pangan melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk pengembangan urban farming, rooftop gardening, vertical garden, dan desa tematik pangan.

Program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat kesejahteraan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (Red/fs)