Penulis: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. (Guru Besar Universitas Jambi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)
BerdayaNews.com, Jambi – Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah di Pulau Sumatera yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam (SDA) melimpah. Selama bertahun-tahun, perkebunan kelapa sawit, karet, batu bara, minyak dan gas bumi (migas), hingga hasil hutan menjadi mesin utama penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Memasuki Triwulan I Tahun 2026, perekonomian Jambi memang masih menunjukkan kinerja yang relatif resilien di tengah ketidakpastian global. Konsumsi domestik, aktivitas perdagangan, dan sektor pertanian menjadi jangkar penyelamat.
Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang positif tersebut, terdapat persoalan mendasar: ekonomi Jambi masih sangat bergantung pada sektor primer dan komoditas mentah berbasis SDA.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai tantangan, paradoks, dan peta jalan (roadmap) transformasi ekonomi Jambi menuju tata kelola yang berkelanjutan.
Paradoks Pembangunan Ekstraktif: Kasus Angkutan Batu Bara
Persoalan utama ekonomi Jambi hari ini bukan terletak pada kurangnya stok sumber daya alam, melainkan pada tata kelola (governance) yang belum mampu menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.
Selama ini, pembangunan ekonomi Jambi bergerak dalam pola ekstraktif—mengambil SDA sebanyak mungkin untuk mengejar pertumbuhan jangka pendek—tanpa diimbangi penguatan lingkungan.
Contoh Nyata: Fenomena kerusakan infrastruktur jalan akibat operasional angkutan batu bara yang masif. Aktivitas ekonomi ini menimbulkan biaya sosial (social cost) yang sangat besar bagi masyarakat luas:
Infrastruktur publik mengalami kerusakan parah.
Biaya logistik daerah membengkak.
Mobilitas harian warga terganggu.
Risiko kecelakaan lalu lintas terus meningkat.
Dalam model pembangunan yang terlampau bertumpu pada eksploitasi, alam hanya dipandang sebagai objek produksi semata. Akibatnya, indikator keberhasilan hanya diukur dari angka pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sementara kualitas hidup antargenerasi dikesampingkan.
Krisis Hilirisasi dan Kerentanan Pasar Global
Kelemahan struktural lain yang dihadapi Jambi adalah masih rendahnya angka hilirisasi industri. Komoditas unggulan seperti sawit, karet, dan batu bara sebagian besar masih dilepas ke pasar dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi.
Dampaknya, Jambi hanya mendapatkan remah-remah manfaat ekonomi jangka pendek, sedangkan nilai tambah (value-added) yang besar justru mengalir ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB Jambi pun menjadi sangat terbatas.
Ketergantungan ekstrem pada komoditas mentah ini membuat Jambi sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Ketika harga batu bara atau sawit jatuh di pasar internasional—seperti tekanan global yang mulai terasa pada Triwulan I-2026 ini—maka denyut nadi perekonomian daerah spontan ikut melemah.
Tiga Pilar Transformasi Ekonomi Jambi
Menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian, Pemerintah Provinsi Jambi tidak bisa lagi bermain di zona nyaman. Diperlukan lompatan kebijakan strategis melalui tiga pilar utama:
1. Akselerasi Hilirisasi Industri
Pemerintah daerah harus secara agresif mendorong investasi pada sektor industri pengolahan produk turunan sawit, karet, hingga pinang. Hilirisasi bukan sekadar mendatangkan pabrik, melainkan strategi mutakhir untuk membuka lapangan kerja berkualitas tinggi, memperkuat rantai pasok UMKM lokal, dan memperluas basis industri daerah.
2. Diversifikasi Ekonomi dan Adopsi Green Economy
Jambi tidak boleh lagi menggantungkan nasibnya hanya pada satu atau dua komoditas primer. Sektor jasa, ekonomi kreatif, pariwisata, dan ekonomi digital harus dihidupkan sebagai motor pertumbuhan baru.
Selain itu, arah kebijakan wajib mengadopsi konsep Ekonomi Hijau rendah karbon serta investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Rehabilitasi lingkungan, perlindungan kawasan hutan, pertanian berkelanjutan, hingga potensi perdagangan karbon (carbon trading) harus mulai diposisikan sebagai portofolio ekonomi masa depan.
3. Peningkatan Kualitas SDM dan Kolaborasi Multi-Pihak
Transformasi ekonomi modern membutuhkan tenaga kerja yang produktif, adaptif, dan memiliki keterampilan tinggi. Oleh sebab itu, penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang sinkron dengan kebutuhan industri harus menjadi prioritas.
Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan perguruan tinggi harus melebur dalam kolaborasi multipihak (helix). Universitas Jambi, misalnya, siap mengambil peran sentral sebagai pusat riset, inovasi, dan kajian teknologi guna mendukung hilirisasi produk-produk lokal.
Momentum resiliensi ekonomi Jambi di awal tahun 2026 ini harus dijadikan titik balik (turning point) untuk mempercepat transformasi. Tantangan riil Jambi ke depan bukan lagi soal seberapa banyak batu bara yang bisa dikeruk atau seberapa luas lahan sawit yang bisa dipanen, melainkan seberapa adil dan berkelanjutan kekayaan alam tersebut dikelola.
Sudah saatnya kekayaan sumber daya alam Jambi tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan jangka pendek, melainkan fondasi peradaban ekonomi yang makmur, tangguh, dan lestari bagi seluruh masyarakat Jambi hingga generasi mendatang.
Editor: Redaksi Berdayanews.com/fs


