Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP. – Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

BerdayaNews.com, Jambi — Belakangan ini berkembang narasi yang menempatkan Pelabuhan Ujung Jabung sebagai penentu utama, bahkan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan daya saing Provinsi Jambi.

Narasi tersebut menarik perhatian publik karena menyentuh salah satu proyek strategis yang selama bertahun-tahun menjadi harapan masyarakat Jambi untuk memperkuat konektivitas dan perdagangan internasional.

Namun dalam perspektif pembangunan daerah, pertanyaannya bukan apakah Pelabuhan Ujung Jabung penting atau tidak.

Jawabannya jelas: penting.

Persoalannya adalah apakah masa depan daya saing Jambi hanya ditentukan oleh satu proyek tersebut?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Ketika Persoalan Kompleks Dijelaskan dengan Satu Variabel

Dalam ilmu kebijakan publik terdapat istilah single factor fallacy, yaitu kecenderungan menjelaskan persoalan yang kompleks hanya melalui satu faktor dominan.

Cara berpikir seperti ini sering menghasilkan kesimpulan yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya tidak mencerminkan realitas yang utuh.

Jika daya saing daerah hanya ditentukan oleh keberadaan pelabuhan, maka daerah yang tidak memiliki pelabuhan laut besar semestinya tidak mampu berkembang.

Faktanya tidak demikian.

Bandung berkembang sebagai pusat pendidikan, teknologi, dan industri kreatif.

Yogyakarta membangun daya saing melalui kualitas sumber daya manusia, pendidikan, budaya, dan ekonomi kreatif.

Surakarta tumbuh melalui perdagangan, UMKM, jasa, dan tata kelola kota yang relatif baik.

Ketiga daerah tersebut menunjukkan bahwa daya saing tidak pernah dibangun oleh satu proyek semata.

Apa yang Sebenarnya Menentukan Daya Saing?

Dalam teori Competitive Advantage of Nations, Michael Porter menjelaskan bahwa daya saing ditentukan oleh produktivitas.

Baca juga :  Wali Kota Bekasi Rotasi dan Mutasi Puluhan Pejabat, Tekankan Meritokrasi dan ASN Berwawasan Global

Produktivitas lahir dari kombinasi berbagai faktor:

  • kualitas sumber daya manusia;
  • inovasi;
  • investasi;
  • efisiensi birokrasi;
  • iklim usaha;
  • penguasaan teknologi;
  • akses pasar;
  • serta kualitas infrastruktur.

Dengan kata lain, pelabuhan adalah bagian dari sistem daya saing, bukan keseluruhan sistem itu sendiri.

Infrastruktur berfungsi sebagai enabler atau pemungkin.

Tetapi yang menentukan apakah peluang tersebut menjadi kemajuan ekonomi tetaplah manusia, dunia usaha, dan institusi yang mengelolanya.

Data Jambi Menunjukkan Ekonomi Tetap Bergerak

Jika menggunakan pendekatan empiris, sejumlah indikator pembangunan Jambi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tetap berlangsung.

Perekonomian Jambi pada tahun 2024 tumbuh sekitar 4,51 persen.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar Rp322,98 triliun.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 74,36.

Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada kisaran 4,48 persen, sementara angka kemiskinan tercatat sekitar 7,19 persen pada tahun 2025.

Data tersebut tidak berarti pembangunan telah sempurna.

Namun data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, pembangunan manusia, investasi, dan pelayanan publik tetap berjalan meskipun Pelabuhan Ujung Jabung belum beroperasi sebagai pelabuhan internasional utama.

Pelabuhan Tidak Menciptakan Barang

Salah satu asumsi yang sering muncul adalah bahwa pembangunan pelabuhan secara otomatis akan menciptakan kemajuan ekonomi.

Sejarah pembangunan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Pelabuhan yang berhasil umumnya lahir dari ekonomi yang sudah produktif.

Pelabuhan tidak menghasilkan komoditas.

Pelabuhan tidak menciptakan ekspor.

Pelabuhan tidak membangun industri.

Pelabuhan hanya mempercepat arus barang, jasa, dan manusia.

Karena itu pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Baca juga :  PARADOKS APBD BEKASI: DANA DESA RP837 MILIAR HABIS, TAPI KEMISKINAN NAIK? LSM RIB ENDUS "SABOTASE" PEMBANGUNAN OLEH PEJABAT DAERAH!

Apakah basis produksi Jambi sudah cukup kuat untuk menopang pelabuhan internasional berskala besar secara berkelanjutan?

Jika sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan, hilirisasi, dan investasi belum berkembang optimal, maka pelabuhan yang megah sekalipun berisiko belum dimanfaatkan secara maksimal.

Hilirisasi Lebih Penting daripada Sekadar Ekspor

Data ekspor Jambi menunjukkan bahwa sebagian besar ekspor masih didominasi komoditas berbasis sumber daya alam seperti:

  • kelapa sawit;
  • karet;
  • pinang;
  • dan produk primer lainnya.

Persoalan utama pembangunan ekonomi modern bukan hanya bagaimana barang keluar dari daerah.

Persoalan utamanya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah sebelum barang tersebut keluar.

Dalam ekonomi modern, daya saing tidak diukur dari banyaknya komoditas mentah yang diekspor.

Daya saing diukur dari kemampuan daerah mengolah komoditas menjadi produk bernilai tinggi.

Karena itu agenda hilirisasi sesungguhnya memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap daya saing dibanding sekadar membangun fasilitas logistik.

Ujung Jabung Bukan Kewenangan Tunggal Pemerintah Provinsi

Aspek lain yang sering luput dalam perdebatan publik adalah soal kewenangan.

Pelabuhan laut dalam (deep sea port) bukan proyek yang dapat dibangun secara mandiri oleh pemerintah provinsi.

Pengembangannya melibatkan:

  • Kementerian Perhubungan;
  • Bappenas;
  • Kementerian PUPR;
  • operator pelabuhan;
  • investor nasional;
  • investor swasta;
  • hingga berbagai regulasi pemerintah pusat.

Karena itu menempatkan seluruh tanggung jawab kemajuan atau keterlambatan Pelabuhan Ujung Jabung kepada Pemerintah Provinsi Jambi merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.

Pembangunan pelabuhan merupakan proses lintas sektor, lintas kewenangan, dan lintas pemerintahan.

Melihat Lebih Dalam

Pernyataan bahwa tanpa Pelabuhan Ujung Jabung visi “Jambi Mantap Berdaya Saing dan Berkelanjutan” hanyalah mimpi di siang bolong lebih tepat dipahami sebagai retorika politik daripada kesimpulan akademik.

Baca juga :  Dorong Kemandirian Ekonomi dan SDM, Kadistrik Bugukgona Pimpin Aksi Turun Kampung Pantau 13 Desa

Sebab kesimpulan tersebut dibangun di atas tiga kelemahan berpikir sekaligus:

Single Factor Fallacy

Menganggap satu faktor sebagai penjelas utama persoalan yang kompleks.

False Dilemma

Seolah hanya ada dua pilihan: membangun pelabuhan atau gagal berdaya saing.

Oversimplification

Menyederhanakan pembangunan daerah yang multidimensional menjadi satu proyek fisik.

Padahal pembangunan daerah sesungguhnya merupakan proses yang melibatkan pendidikan, kesehatan, investasi, inovasi, hilirisasi, tata kelola, kelembagaan, serta konektivitas wilayah secara bersamaan.

Penutup

Pelabuhan Ujung Jabung tetap merupakan aset strategis yang penting bagi masa depan Jambi.

Namun masa depan daerah tidak pernah ditentukan oleh satu pelabuhan, satu jalan, satu kawasan industri, ataupun satu proyek infrastruktur tertentu.

Daerah yang berdaya saing adalah daerah yang mampu membangun manusia, memperkuat produktivitas ekonomi, menciptakan iklim investasi yang sehat, mendorong inovasi, serta mengintegrasikan seluruh potensi pembangunan secara berkelanjutan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Pelabuhan Ujung Jabung sudah selesai dibangun.

Melainkan apakah Jambi telah berhasil membangun ekosistem ekonomi yang mampu memanfaatkan pelabuhan tersebut secara optimal ketika saatnya tiba.

BerdayaNews.com | Melihat Lebih Dalam

Pelabuhan dapat mempercepat arus perdagangan, tetapi tidak dapat menggantikan produktivitas. Infrastruktur dapat membuka jalan, tetapi manusialah yang menentukan ke mana arah pembangunan akan berjalan. Karena itu, daya saing daerah tidak pernah dibangun oleh satu proyek, melainkan oleh kemampuan menghubungkan seluruh potensi pembangunan menjadi kemajuan yang berkelanjutan. (Red/fs)