Oleh: Angginak Sepi Wanimbo
BerdayaNews.com, Papua — Sejak fajar penciptaan, Tuhan Yang Maha Kuasa telah menempatkan setiap bangsa dengan bahasa dan budayanya masing-masing. Sebagaimana saudara-saudara kita di Jawa, Makassar, Jepang, hingga Amerika memiliki akar tradisi yang kuat, demikian pula Tuhan telah menetapkan penduduk asli Papua dari Sorong hingga Merauke untuk hidup, berkarya, dan berkembang biak di atas tanah ini.
Tanah Papua adalah beranda kekayaan peradaban. Dengan 428 bahasa dan budaya yang berbeda, kita diberkati dengan kearifan lokal yang tak ternilai. Salah satu simbol kebanggaan kita adalah Honai. Lebih dari sekadar tempat tinggal, Honai adalah institusi pendidikan pertama bagi manusia Papua. Di sana ada pembagian peran yang jelas—Honai laki-laki, Honai perempuan, dan Honai ternak—yang mengajarkan kita tentang tatanan sosial yang harmonis.
Keajaiban Ilmu Pengetahuan Leluhur
Leluhur kita adalah arsitek dan teknokrat yang luar biasa. Tanpa gelar formal dari universitas luar, mereka mampu membangun Honai yang kokoh, menciptakan jembatan gantung yang artistik, hingga merancang alat berburu seperti busur dan tombak dengan presisi yang tinggi.
Semua ini adalah ilmu yang diajarkan langsung oleh Tuhan kepada nenek moyang kita. Mereka menguasai etika sosial, prosesi adat yang sakral, hingga teknik kuliner “Bakar Batu” yang mengedepankan nilai kebersamaan. Inilah pendidikan dasar yang sesungguhnya: kemandirian dan penghormatan.
-
Di Honai Laki-laki: Generasi muda ditempa menjadi pemimpin yang mandiri, ahli dalam mengelola kebun, dan memiliki tanggung jawab besar untuk menghargai istri serta anak-anaknya.
-
Di Honai Perempuan: Anak gadis dididik menjadi tiang keluarga yang terampil—menganyam Noken, bercocok tanam, dan menjaga martabat keluarga.
Tantangan Modernitas dan Ancaman Hilangnya Identitas
Sejarah mencatat bahwa kemajuan mulai masuk ke Papua seiring dengan hadirnya misi Pekabaran Injil dan integrasi pemerintahan. Namun, kita harus jujur melihat realitas hari ini. Di tengah arus kebijakan sistematis, ada kekhawatiran besar bahwa nilai-nilai bahasa dan budaya kita perlahan mulai luntur, bahkan terancam punah dalam kurikulum pendidikan formal.
Pendidikan yang tidak berpijak pada budaya lokal berisiko membuat generasi muda Papua menjadi “asing” di tanahnya sendiri. Jika kita kehilangan bahasa dan adat, kita kehilangan jati diri.
Menuju Generasi Emas Papua yang Bermartabat
Penting bagi kita untuk melakukan langkah revolusi pendidikan berbasis budaya. Kita tidak boleh hanya menunggu; kita harus bergerak sekarang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur demi masa depan “Generasi Emas Papua”.
-
Integrasi Kurikulum Muatan Lokal (Mulok): Apa yang telah dimulai di Biak, Jayapura, dan Jayawijaya harus menjadi standar di seluruh Tanah Papua. Pendidikan bahasa daerah dan sejarah budaya wajib diajarkan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
-
Peran Keluarga: Ayah dan Ibu adalah guru pertama. Budayakan berbicara bahasa daerah di rumah dan ajarkan nilai-nilai sosial Papua kepada anak-anak sejak dini.
-
Kemandirian Pangan dan Kesehatan: Mari menoleh kembali pada pola hidup leluhur yang mengonsumsi pangan lokal alami—ubi, sayur, dan protein dari alam. Kekuatan fisik dan umur panjang nenek moyang kita adalah bukti bahwa alam Papua menyediakan segala yang terbaik untuk kesehatan kita.
Harapan dalam Identitas
Ada sebuah pepatah yang harus kita renungkan:
“Mengenal bahasa dan budaya berarti memiliki harapan masa depan; namun kehilangan bahasa dan budaya berarti kehilangan harapan masa depan.”
Mari kita bersatu, dari Sorong sampai Merauke, untuk menjaga kekayaan yang Tuhan titipkan di Bumi Cenderawasih ini. Bangsa yang maju adalah bangsa yang tidak pernah melupakan akarnya. Dengan pendidikan berbasis budaya, kita akan berdiri tegak sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan bermartabat tinggi.
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.
Waaa… Waaa… Waaa…
Tiom, 24 Februari 2026
Tentang Penulis:
-
Ketua DPD – PPDI Provinsi Papua Pegunungan
-
Ketua DPD – PPKL & AB Provinsi Papua Pegunungan
-
Ketua DPW – GAN Provinsi Papua Pegunungan


