BerdayaNews.com, Kota Bekasi – Kondisi ekonomi masyarakat Kota Bekasi kembali diuji oleh lonjakan harga pangan, khususnya daging sapi. Menyikapi laporan rencana mogok berjualan pedagang daging di sejumlah pasar tradisional, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto turun langsung memantau kios daging di Pasar Baru Bekasi, Rabu (22/01).

Langkah ini dilakukan menyusul rencana mogok pedagang daging yang dijadwalkan berlangsung mulai Kamis (23/01) hingga Sabtu (25/01). Aksi tersebut dipicu oleh tingginya harga sapi—termasuk sapi impor dengan skema timbang hidup—yang tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat yang terus melemah.

Harga Daging Melonjak, Transaksi Tertekan

Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan, harga rata-rata daging sapi murni di Kota Bekasi tercatat mencapai Rp133.659 per kilogram di tingkat konsumen. Sementara data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga daging sapi di Pasar Kranji sudah menyentuh Rp140.000 per kilogram, naik sekitar Rp5.000 dari harga sebelumnya.

Kenaikan ini berdampak langsung pada penurunan transaksi di pasar. Pedagang mengaku kesulitan menjual karena konsumen semakin selektif, bahkan mengurangi pembelian kebutuhan protein hewani.

Baca juga :  Selesaikan Sengketa Lahan, Sekda Kota Bekasi Teken Draft Perubahan Batas Wilayah Bekasi–Jakarta Timur

“Kondisi ini bukan hanya soal pedagang, tapi juga mencerminkan tekanan ekonomi rumah tangga. Saat harga pangan naik, konsumsi pasti ditekan,” ujar salah satu pedagang daging di Pasar Baru.

Mogok Masih Terbatas, Tapi Jadi Alarm

Dalam pemantauan tersebut, Tri Adhianto menyebutkan bahwa aksi mogok masih dalam skala terbatas. Dari total 319 kios di Pasar Baru, tercatat 11 kios daging tidak beroperasi.

“Saya memantau langsung perkembangan mogok yang dilakukan pedagang daging. Ini memang belum masif, tapi cukup merepresentasikan dinamika dan tekanan yang sedang terjadi di pasar,” kata Tri Adhianto.

Menurutnya, keluhan utama pedagang adalah tingginya harga modal daging yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Akibatnya, margin pedagang tergerus dan transaksi jual beli menurun drastis.

Ekonomi Lokal Tertekan, Pangan Jadi Indikator

Fenomena ini memperlihatkan bahwa harga pangan masih menjadi indikator sensitif kondisi ekonomi masyarakat Kota Bekasi. Daging sapi, sebagai salah satu sumber protein utama, mulai bergeser dari kebutuhan rutin menjadi barang yang dikonsumsi secara terbatas oleh sebagian warga.

Baca juga :  Presiden Prabowo Dorong Sinergi Digital ASEAN–Korea Jadi Motor Pertumbuhan Baru Kawasan

Beberapa pengusaha daging bahkan telah melakukan stok lebih awal untuk menjaga pasokan bagi pelanggan tetap, namun langkah tersebut dinilai hanya solusi jangka pendek jika stabilitas harga di tingkat hulu tidak segera ditangani.

Pemkot Bekasi Siap Surati Kementerian Pertanian

Menanggapi kondisi tersebut, Tri Adhianto menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bekasi akan menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada Kementerian Pertanian. Upaya ini dilakukan agar ada intervensi kebijakan yang dapat menekan harga daging, baik melalui pengaturan pasokan maupun mekanisme distribusi.

“Kami akan bersurat ke Kementerian Pertanian dengan menyampaikan kondisi nyata di lapangan. Harapannya, ada langkah konkret agar harga daging lebih stabil sehingga pedagang dan masyarakat bisa kembali beraktivitas normal,” tegasnya.

Catatan BerdayaNews

Kenaikan harga daging sapi dan melemahnya daya beli masyarakat di Kota Bekasi menjadi peringatan penting bahwa stabilitas pangan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa intervensi serius dari pemerintah pusat dan daerah, tekanan ekonomi berpotensi meluas dan berdampak pada kesejahteraan rakyat kecil, baik pedagang maupun konsumen.

Baca juga :  OTT KPK Tangkap Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, Tiga Tersangka Ditetapkan

BerdayaNews.com akan terus mengawal isu harga pangan dan kebijakan ekonomi daerah demi memastikan kepentingan masyarakat Kota Bekasi tetap menjadi prioritas utama.fs