BerdayaNews.com, Roma – Di era di mana algoritma sering kali mendikte interaksi sosial, sebuah pertanyaan mendasar muncul: Bagaimana nasib sisi religius dan spiritual manusia agar tidak tertinggal oleh derasnya kemajuan teknologi?

Menjawab tantangan global ini, hampir 200 pakar, akademisi, dan pemimpin agama dari seluruh dunia berkumpul di Roma dalam konferensi internasional bertajuk “Misionaris Digital: Pelatihan Apa yang Dibutuhkan?”. Pertemuan yang melibatkan empat universitas kepausan ternama ini menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat teknik, melainkan “benua baru” yang membutuhkan kehadiran manusia seutuhnya.

Teknologi Bukan Tujuan, Melainkan Jembatan

Monsignor Lucio Ruiz, Sekretaris Dikasteri Komunikasi, dalam pembukaannya menekankan bahwa kemajuan digital tidak boleh mencabut akar kemanusiaan. Tujuan utama kehadiran manusia di ruang siber bukan sekadar untuk eksis atau populer.

“Tujuannya bukan sekadar hadir di sana, tetapi pergi ke tempat orang-orang berada, membuka jalan bagi mereka, dan menemani mereka,” tegas Ruiz. Hal ini menjadi jawaban bagi kekhawatiran masyarakat modern tentang kesepian di tengah keramaian digital (loneliness in the crowd).

Baca juga :  Kadis Kominfo Provinsi Jambi Pimpin Rombongan Diskominfo Kabupaten/Kota Audiensi ke Komdigi RI

Jawaban Bagi Umat Manusia: Iman yang Berakal

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah bagaimana memastikan manusia tetap memiliki pegangan intelektual dan spiritual di tengah gempuran konten pendek dan cepat.

Profesor Juan Narbona dari Universitas Santa Croce mengingatkan bahwa di balik efektivitas teknologi, harus ada refleksi mendalam. “Iman berbicara kepada akal kita karena ia memberikan suara kepada kebenaran. Iman tanpa akal bukanlah iman yang autentik,” ujarnya mengutip pesan Paus Benediktus XVI.

Ini adalah alarm bagi kita semua agar tidak menjadi konsumen informasi yang dangkal. Jawaban agar manusia tidak tertinggal oleh teknologi adalah dengan memperkuat pembentukan intelektual; bahwa setiap pesan digital harus lahir dari studi dan persiapan yang matang, bukan sekadar mengejar viralitas.

Tantangan “Influencer” dan Otentisitas

Konferensi ini juga menyoroti fenomena influencer agama. Penelitian Maria Paola Piccini menunjukkan bahwa 74% audiens menganggap kehadiran sosok religius di media sosial sebagai hal yang otentik. Namun, ada risiko besar: hubungan tersebut sering kali hanya dimediasi oleh layar tanpa perjumpaan personal yang nyata.

Baca juga :  Monsun Asia Menguat, Waspada Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia | IDXC UPDATE

Pastor Peter Lah dari Universitas Gregoriana memperingatkan bahwa platform digital dirancang untuk merangsang perhatian konstan, yang sering kali menghargai kedangkalan daripada dialog autentik.

“Lingkungan digital tidak netral. Evangelisasi sejati tidak dapat direduksi menjadi sekadar produksi konten.”

Solusi: Keheningan di Dunia yang Bising

Sebagai solusi agar manusia tetap seimbang di era digital, para pakar sepakat pada tiga pilar: Kerendahan hati, realitas, dan batiniah.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu “online”, manusia justru butuh waktu untuk hening dan berdoa. Hubungan batin dengan Sang Pencipta menjadi jangkar agar manusia tidak hanyut dalam arus teknologi yang tak berujung.

Anastasia Pinto, salah satu peserta muda, memberikan pesan penyejuk bagi generasi digital: “Jangan takut. Tuhan menginginkan ketersediaan kita lebih dari kemampuan kita.” Pesan ini menegaskan bahwa dalam teknologi, yang utama tetaplah kualitas jiwa, bukan kuantitas pengikut (followers).

Kesimpulan: Siapa yang Memengaruhi Pengaruh?

Menutup konferensi, Profesor Daniel Arasa melontarkan pertanyaan reflektif: “Siapa yang memengaruhi para pemberi pengaruh?”.

Baca juga :  Presiden Prabowo: Digitalisasi Pembelajaran Jadi Lompatan Besar Transformasi Pendidikan Nasional

Jawabannya jelas: Manusia akan tetap relevan dan tidak tertinggal oleh teknologi selama mereka tetap berlandaskan pada kesaksian hidup yang jujur, kasih sayang yang nyata, dan pesan-pesan abadi yang melampaui batas layar smartphone. (Red/fs)