BerdayaNews.com, Jakarta – Peluncuran Indonesia Road Assessment Program (InaRAP) oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum bersama International Road Assessment Programme (iRAP) dinilai menjadi langkah strategis dalam memperbaiki keselamatan jalan nasional yang selama ini menjadi salah satu persoalan serius di Indonesia.

Program yang resmi ditandatangani di Jakarta pada April 2026 tersebut dirancang untuk menurunkan angka kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas melalui pendekatan berbasis data, pemetaan risiko jalan, serta investasi perbaikan infrastruktur yang lebih tepat sasaran.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam peluncuran program, kecelakaan lalu lintas di Indonesia menyebabkan lebih dari 31 ribu kematian setiap tahun, lebih dari satu juta korban luka serius, serta kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai US$38 miliar per tahun.

Melalui InaRAP, pemerintah akan menggunakan sistem “Star Rating” untuk menilai tingkat keselamatan jalan. Jalan dengan rating satu bintang dikategorikan sangat berbahaya, sementara lima bintang menunjukkan tingkat keselamatan terbaik bagi pengguna kendaraan, pengendara sepeda motor, pesepeda, hingga pejalan kaki.

Pendekatan Baru: Perbaikan Jalan Berbasis Risiko Kecelakaan

Foto: Direktorat Jenderal Bina Marga Luncurkan InaRAP untuk Menghilangkan Jalan Berisiko Tinggi di Indonesia

Baca juga :  Sambut Piala Dunia 2026, TVRI Jambi Siapkan 6 Transmisi Prima untuk Jangkau Seluruh Pelosok

Berbeda dengan pendekatan pembangunan jalan konvensional yang sering berfokus pada pelebaran atau pembangunan fisik besar, InaRAP menitikberatkan pada identifikasi titik-titik paling berbahaya yang berkontribusi terhadap tingginya angka fatalitas.

Program ini memungkinkan pemerintah menentukan prioritas anggaran berdasarkan tingkat risiko nyata di lapangan, seperti:

  • jalan tanpa median;
  • tikungan tajam;
  • ruas minim penerangan;
  • bahu jalan rusak;
  • kawasan rawan tabrakan motor dan truk;
  • titik penyeberangan sekolah yang tidak aman.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efisien karena anggaran diarahkan langsung pada lokasi yang paling membutuhkan intervensi keselamatan.

Manfaat Nyata terhadap Penurunan Kecelakaan

Secara global, metode iRAP telah digunakan di berbagai negara untuk mengurangi fatalitas kecelakaan. Peningkatan rating keselamatan jalan terbukti mampu menekan risiko tabrakan fatal melalui intervensi sederhana namun efektif.

Beberapa bentuk perbaikan yang biasanya memberikan dampak besar antara lain:

  • pemasangan guardrail pada tikungan dan jurang;
  • marka jalan reflektif;
  • penerangan jalan;
  • median pembatas;
  • jalur khusus sepeda motor;
  • zebra cross aman;
  • pengendalian akses liar di jalan nasional.

Bagi pengendara sepeda motor, yang saat ini menjadi kelompok korban terbesar kecelakaan di Indonesia, perbaikan kecil seperti separator jalur dan penerangan jalan sering kali menjadi faktor penentu keselamatan.

Baca juga :  Menteri Agama Nasaruddin Umar Ziarah ke Makam Paus Fransiskus, Letakkan Rosario Biru-Hijau di Pusara Sahabat Spiritualnya

Contoh Nyata yang Sering Terjadi di Lapangan

Kecelakaan fatal akibat minimnya standar keselamatan jalan bukan hal baru di Indonesia. Di banyak jalur nasional dan jalan antar-kabupaten, pengendara motor kerap menjadi korban karena:

  • menabrak truk yang parkir tanpa penerangan;
  • kehilangan kendali di tikungan tanpa guardrail;
  • terjatuh akibat bahu jalan amblas;
  • tertabrak kendaraan dari arah berlawanan karena tidak adanya median pembatas.

Kasus lain yang sering terjadi adalah kecelakaan di kawasan sekolah dan pasar akibat tidak tersedianya fasilitas penyeberangan yang aman bagi pejalan kaki.

Di sejumlah ruas jalan pantura dan jalur logistik industri, tabrakan antara kendaraan berat dan sepeda motor juga kerap memicu korban jiwa karena minimnya pemisahan jalur lalu lintas.

Melalui InaRAP, titik-titik seperti ini diharapkan dapat dipetakan secara sistematis sehingga pemerintah dapat melakukan intervensi lebih cepat sebelum menimbulkan korban berikutnya.

Potensi Efisiensi Anggaran Negara

Dari sisi tata kelola anggaran, InaRAP dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi belanja infrastruktur karena perbaikan jalan dilakukan berdasarkan data risiko kecelakaan, bukan sekadar proyek fisik rutin.

Baca juga :  Efek Magis John Herdman: Garuda Mengamuk 4-0 di GBK, Debut Manis dengan Pola Permainan Modern dan Motivasi Tinggi

iRAP memperkirakan Indonesia dapat mencegah lebih dari 10.300 kematian setiap tahun apabila sebagian besar perjalanan terjadi di jalan dengan standar minimal tiga bintang. Manfaat ekonominya diperkirakan mencapai US$12,8 miliar atau setara pengembalian sekitar US$10 untuk setiap US$1 investasi keselamatan jalan.

Artinya, program keselamatan jalan bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga mengurangi beban ekonomi negara akibat biaya rumah sakit, kehilangan produktivitas, kerusakan kendaraan, hingga gangguan distribusi logistik.

Tantangan Implementasi

Meski dinilai progresif, efektivitas InaRAP tetap bergantung pada konsistensi implementasi di lapangan. Pengawasan publik diperlukan agar program ini tidak berhenti pada pelatihan, pemetaan, atau kegiatan administratif semata.

Tantangan lain adalah integrasi data antarinstansi serta transparansi penggunaan anggaran agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program keselamatan jalan yang sebelumnya telah dimiliki oleh kepolisian, dinas perhubungan, maupun balai jalan nasional.

Apabila dijalankan secara serius dan berkelanjutan, InaRAP berpotensi menjadi salah satu reformasi penting dalam sistem keselamatan transportasi Indonesia, terutama di tengah terus meningkatnya jumlah kendaraan dan tingginya fatalitas kecelakaan jalan raya. (Red/fs)