Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP. – Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

BerdayaNews.com, Jambi — Di berbagai daerah, pembangunan sering diukur dari berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa banyak investasi yang masuk, berapa kawasan industri yang dibuka, atau seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai.

Ukuran-ukuran tersebut memang penting. Namun sejarah pembangunan dunia menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi yang berkelanjutan tidak pernah lahir hanya dari infrastruktur, investasi, ataupun kekayaan sumber daya alam. Faktor yang paling menentukan justru adalah kualitas manusia yang mengelola seluruh potensi tersebut.

Karena itu, ketika berbicara tentang transformasi ekonomi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang transformasi manusia.

Kekayaan Alam Bukan Jaminan Kemajuan

Banyak negara memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi gagal mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan. Sebaliknya, sejumlah negara yang minim sumber daya alam justru berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Jepang, Korea Selatan, dan Singapura merupakan contoh yang sering dikutip. Ketika melihat keberhasilan mereka, perhatian publik biasanya tertuju pada industrialisasi, ekspor, teknologi, atau investasi asing.

Padahal sebelum seluruh keberhasilan ekonomi itu terjadi, mereka terlebih dahulu membangun manusianya.

Pendidikan diperluas. Keterampilan tenaga kerja ditingkatkan. Penguasaan teknologi diperkuat. Budaya disiplin dan inovasi ditanamkan. Birokrasi diperbaiki. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan terus dikembangkan.

Dengan kata lain, yang pertama kali mengalami transformasi bukanlah industrinya, melainkan manusianya.

Baca juga :  Gubernur Al Haris Tandatangani Perjanjian Kinerja 2026, Tegaskan Tiga Hal

Human Capital: Investasi yang Paling Menguntungkan

Pemikiran ini memiliki landasan teoritis yang kuat.

Peraih Nobel Ekonomi tahun 1979, Theodore W. Schultz, memperkenalkan konsep human capital atau modal manusia. Menurut Schultz, pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan pengetahuan bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan investasi ekonomi yang mampu meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan.

Gagasan tersebut kemudian diperkuat oleh Gary S. Becker yang menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan dan pelatihan kerja menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi individu maupun negara.

Artinya, biaya pendidikan bukanlah beban pembangunan. Pendidikan adalah investasi yang akan menghasilkan produktivitas, inovasi, dan daya saing pada masa depan.

Pembangunan Harus Memperluas Kapabilitas Manusia

Pandangan yang lebih luas disampaikan oleh Amartya Sen melalui konsep capability expansion.

Menurut Sen, pembangunan bukan hanya soal meningkatnya pendapatan masyarakat. Pembangunan harus diukur dari sejauh mana masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup lebih sehat, memperoleh pendidikan yang lebih baik, bekerja secara produktif, dan mengembangkan potensinya secara optimal.

Dalam perspektif ini, manusia bukan hanya tujuan pembangunan, tetapi juga pelaku utama pembangunan.

Ketika kualitas manusia meningkat, maka kemampuan ekonomi masyarakat ikut berkembang.

Era Digital Mengubah Sumber Keunggulan Ekonomi

Saat ini dunia memasuki era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy).

Baca juga :  MENAKAR MASA DEPAN EKONOMI SUNGAI PENUH DAN KERINCI DI TENGAH JEMBATAN SEMPIT RUANG FISKAL

Kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, otomatisasi industri, dan ekonomi kreatif telah mengubah cara nilai tambah diciptakan.

Peter Drucker bahkan menyebut bahwa pengetahuan telah menjadi faktor produksi yang paling penting dalam ekonomi modern.

Keunggulan suatu daerah tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah atau melimpahnya sumber daya alam. Yang menentukan adalah kemampuan manusianya dalam menguasai teknologi, menghasilkan inovasi, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Karena itu, daerah yang mampu membangun sumber daya manusia unggul akan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan ekonomi masa depan.

Relevansi bagi Pembangunan Jambi

Bagi Provinsi Jambi, gagasan ini memiliki makna yang sangat penting.

Jambi saat ini tengah mendorong hilirisasi, penguatan UMKM, pembangunan kawasan industri, digitalisasi pelayanan publik, serta peningkatan investasi.

Namun seluruh program tersebut hanya akan menghasilkan manfaat maksimal apabila diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Jalan yang baik memang membuka akses ekonomi.

Kawasan industri memang menciptakan peluang usaha.

Investasi memang menghadirkan modal dan lapangan pekerjaan.

Tetapi manusia tetap menjadi faktor penentu apakah seluruh peluang tersebut dapat diubah menjadi produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan.

Karena itu investasi pada pendidikan, kesehatan, pelatihan kerja, literasi digital, kewirausahaan, riset, dan inovasi harus ditempatkan sebagai prioritas utama pembangunan daerah.

Melihat Lebih Dalam

Sering kali pemerintah dan masyarakat terjebak pada angka-angka pembangunan yang mudah dilihat secara fisik.

Baca juga :  Saat Persepsi Mengalahkan Fakta: Peran Humas di Era Post-Truth

Padahal pembangunan yang paling menentukan justru sering kali tidak terlihat secara langsung.

Pendidikan yang berkualitas tidak selalu menghasilkan perubahan dalam satu tahun. Pelatihan keterampilan mungkin tidak langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Investasi kesehatan juga membutuhkan waktu panjang sebelum dampaknya terasa.

Namun seluruh investasi tersebut akan membentuk modal manusia yang menjadi fondasi kemajuan ekonomi jangka panjang.

Jika infrastruktur adalah kendaraan pembangunan, maka manusia adalah pengemudinya.

Sehebat apa pun kendaraan yang dimiliki, tanpa pengemudi yang kompeten, tujuan pembangunan tidak akan pernah tercapai.

Penutup

Pada akhirnya, transformasi ekonomi bukan sekadar transformasi komoditas, industri, teknologi, atau investasi.

Transformasi ekonomi adalah proses meningkatkan kapasitas manusia untuk berpikir lebih baik, bekerja lebih produktif, berinovasi lebih cepat, dan beradaptasi terhadap perubahan yang semakin dinamis.

Ketika manusia berkembang, produktivitas meningkat.

Ketika produktivitas meningkat, inovasi tumbuh.

Ketika inovasi tumbuh, nilai tambah tercipta.

Dan ketika nilai tambah tercipta, kesejahteraan masyarakat dapat dibangun secara lebih berkelanjutan.

Karena itu, investasi terbesar dalam pembangunan bukanlah pada apa yang dimiliki suatu daerah, melainkan pada manusia yang mampu mengubah potensi menjadi kemajuan. Di situlah transformasi ekonomi menemukan maknanya yang paling mendasar: transformasi ekonomi pada akhirnya adalah transformasi manusia. (Red/fs)