Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP – Akademisi UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi

Hilirisasi kini menjadi salah satu kata kunci dalam arah pembangunan ekonomi Indonesia. Pemerintah pusat maupun daerah berlomba mendorong pengolahan sumber daya alam agar tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, agenda hilirisasi bukan sekadar pilihan pembangunan, melainkan kebutuhan strategis untuk masa depan. Kedua daerah di pesisir timur Provinsi Jambi tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari kelapa sawit, kelapa rakyat, pinang, sektor perikanan, hingga potensi migas dan perdagangan pesisir.

Namun, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk menciptakan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.

Banyak daerah kaya komoditas tetap terjebak sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh pihak lain di luar wilayahnya. Persoalannya bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena keterbatasan kapasitas sumber daya manusia yang mampu mengelola dan mengembangkan rantai nilai ekonomi yang lebih kompleks.

Di sinilah letak persoalan sekaligus tantangan terbesar hilirisasi.

Hilirisasi Sesungguhnya Adalah Transformasi Manusia

Sering kali hilirisasi dipahami hanya sebagai pembangunan pabrik, kawasan industri, atau masuknya investasi besar ke daerah. Padahal, hilirisasi yang sesungguhnya jauh lebih mendasar dari itu.

Baca juga :  Tinjau Sekolah Rakyat di Tanjabtim, Al Haris Minta Pembangunan Dipercepat Demi Sambut Siswa Baru

Hilirisasi adalah proses transformasi kapasitas manusia.

Pertanyaan penting yang harus dijawab bukan hanya berapa banyak industri yang dibangun, melainkan siapa yang akan mengoperasikan industri tersebut, siapa yang mengelola rantai pasoknya, siapa yang mengembangkan inovasinya, dan siapa yang menikmati manfaat ekonomi dari nilai tambah yang dihasilkan.

Tanpa kesiapan sumber daya manusia lokal, pembangunan industri berisiko hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif. Industri mungkin tumbuh, investasi mungkin masuk, tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton atau berada pada lapisan pekerjaan dengan produktivitas rendah.

Akibatnya, nilai tambah ekonomi memang tercipta di daerah, namun penguasaan teknologi, manajemen, dan keuntungan terbesar tetap berada di luar daerah.

Kemajuan SDM Sudah Terlihat, Namun Tantangan Masih Besar

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kualitas pembangunan manusia di kawasan Tanjung Jabung terus mengalami perbaikan.

Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2024 mencapai 72,01 atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Harapan Lama Sekolah mencapai 12,68 tahun, Rata-rata Lama Sekolah 8,32 tahun, dan Umur Harapan Hidup mencapai 73,41 tahun.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan dan kesehatan mulai memberikan hasil yang positif.

Sementara itu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur juga memperlihatkan tren peningkatan kualitas pembangunan manusia. Namun, karakteristik wilayah pesisir yang luas, sebaran penduduk yang relatif terpencar, serta dominasi sektor ekonomi primer masih menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan kualitas SDM secara merata.

Baca juga :  Januari 2026 Penuh Makna: Dari Tahun Baru, Hari Besar Nasional, hingga Peringatan Dunia

Karena itu, pembangunan manusia tidak lagi cukup diukur hanya dari meningkatnya angka pendidikan atau kesehatan. Yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan struktur ekonomi yang semakin modern dan berbasis teknologi.

Pendidikan Vokasi Harus Menjadi Prioritas

Jika hilirisasi benar-benar ingin diwujudkan di kawasan pesisir timur Jambi, maka penguatan pendidikan vokasi harus menjadi agenda prioritas.

Kebutuhan industri pengolahan kelapa, sawit, pinang, perikanan, logistik pelabuhan, hingga sektor manufaktur membutuhkan keterampilan yang berbeda dengan pola ekonomi primer yang selama ini berkembang.

Karena itu, keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Balai Latihan Kerja (BLK), program sertifikasi kompetensi, pendidikan berbasis industri, hingga pelatihan kewirausahaan harus dirancang sesuai kebutuhan riil dunia usaha.

Hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri tidak lagi bisa berjalan sendiri-sendiri.

Pendidikan yang tidak terkoneksi dengan kebutuhan pasar kerja akan menghasilkan lulusan yang kesulitan memperoleh pekerjaan. Sebaliknya, industri yang tumbuh tanpa dukungan SDM lokal akan bergantung pada tenaga kerja dari luar daerah.

Kedua kondisi tersebut tentu tidak sejalan dengan tujuan hilirisasi yang ingin menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

UMKM, BUMDes, dan Koperasi Harus Menjadi Penggerak

Selain pendidikan formal, penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat juga memegang peranan penting dalam proses transformasi SDM.

UMKM, BUMDes, dan Koperasi Merah Putih dapat menjadi laboratorium ekonomi produktif yang mempertemukan masyarakat dengan teknologi, akses pembiayaan, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga kemitraan industri.

Baca juga :  Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Lebaran, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Gerak Cepat Tinjau Pasar Baru

Melalui kelembagaan yang kuat, masyarakat tidak hanya menjadi pekerja dalam rantai industri, tetapi juga dapat tumbuh sebagai pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah secara mandiri.

Inilah bentuk hilirisasi yang paling ideal, yaitu ketika masyarakat lokal menjadi aktor utama dalam proses pembangunan ekonomi daerah.

Masa Depan Ditentukan oleh Kualitas Manusianya

Pada akhirnya, daya saing suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam yang dimiliki ataupun besarnya investasi yang masuk.

Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi yang berkelanjutan selalu bertumpu pada kualitas manusianya.

Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur memiliki modal sumber daya alam yang sangat besar. Namun, keberhasilan transformasi ekonomi di masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan kedua daerah tersebut dalam membangun sumber daya manusia yang produktif, inovatif, adaptif, dan mampu menguasai teknologi.

Sebab hilirisasi yang berhasil bukan hanya menghasilkan produk yang lebih bernilai tinggi, tetapi juga melahirkan masyarakat yang lebih kompetitif, lebih sejahtera, dan lebih berdaya dalam menentukan masa depan daerahnya sendiri.

Dengan demikian, fondasi utama hilirisasi bukanlah pabrik, kawasan industri, atau investasi semata. Fondasi sesungguhnya adalah manusia yang mampu mengelola seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Karena ketika sumber daya alam suatu saat dapat habis, kualitas sumber daya manusia akan tetap menjadi modal utama pembangunan.

Redaksi BerdayaNews.com/fs | Rubrik Opini dan Pembangunan Daerah