Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.MS.
(Pakar Ekonomi Jambi | Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi)

BerdayaNews.com, Jambi – Pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 4,33 persen secara tahunan atau year on year. Meski masih berada pada zona positif, kondisi tersebut menunjukkan adanya perlambatan dibanding Triwulan IV 2025 yang mencapai sekitar 4,77 persen.

Pakar Ekonomi Jambi sekaligus Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi menilai perlambatan tersebut menjadi gambaran bahwa ekonomi daerah masih menghadapi tantangan struktural yang cukup serius.

Menurut Haryadi, secara kuartalan ekonomi Jambi bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,55 persen dibanding akhir tahun 2025. Kondisi itu menunjukkan adanya paradoks ekonomi, yakni pertumbuhan secara statistik tetap terjadi namun aktivitas ekonomi masyarakat mulai melambat.

Ia menjelaskan, perlambatan awal tahun memang kerap terjadi karena proyek pemerintah belum berjalan optimal dan konsumsi masyarakat kembali normal setelah momentum akhir tahun.

Namun demikian, Haryadi menilai persoalan utama bukan hanya faktor musiman, melainkan masih tingginya ketergantungan ekonomi Jambi terhadap komoditas primer seperti batu bara, kelapa sawit, dan karet.

Baca juga :  Transformasi Ekonomi Pesisir Timur Jambi: Hilirisasi dan SDM Jadi Kunci Nilai Tambah Daerah

“Jika setiap awal tahun ekonomi langsung melemah karena belanja pemerintah turun, maka hal itu menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat belum cukup mandiri,” tulis Haryadi dalam analisis ekonominya.

Ketergantungan Komoditas Dinilai Berisiko

Haryadi menyebut struktur ekonomi Jambi saat ini masih sangat sensitif terhadap dinamika pasar global. Ketika harga komoditas meningkat, pertumbuhan ekonomi ikut terdorong, namun saat harga melemah ekonomi daerah langsung mengalami tekanan.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara dunia masih relatif stabil akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Akan tetapi, kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jambi pada awal tahun 2026.

Selain sektor komoditas, beberapa sektor lain juga mengalami pelemahan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor konstruksi mengalami kontraksi signifikan seiring melambatnya proyek pembangunan pemerintah daerah.

Belanja pemerintah juga disebut mengalami penurunan lebih dari 30 persen secara kuartalan, padahal selama ini pengeluaran pemerintah masih menjadi motor penting penggerak ekonomi daerah.

Infrastruktur dan Hilirisasi Jadi Sorotan

Haryadi juga menyoroti persoalan infrastruktur dan distribusi ekonomi di Jambi, termasuk polemik jalan hauling batu bara yang dinilai mengganggu efisiensi ekonomi daerah.

Baca juga :  BJR Bukan Tameng: KPK Ultimatum Direksi & Komisaris Bank BUMN—Niat Jahat Tetap Berujung Penjara

Menurutnya, kemacetan angkutan batu bara, kerusakan jalan, dan tingginya biaya logistik dapat mengurangi daya saing ekonomi Jambi dalam jangka panjang.

Selain itu, ekonomi Jambi dinilai belum memiliki basis industri pengolahan yang kuat untuk menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa keuntungan dari sektor komoditas selama ini lebih banyak dinikmati perusahaan besar, sementara dampak ekonomi terhadap masyarakat luas masih terbatas karena minimnya hilirisasi industri.

Prospek Ekonomi Masih Terbuka

Meski demikian, Haryadi menilai peluang pemulihan ekonomi Jambi pada Triwulan II dan III 2026 masih terbuka apabila belanja pemerintah kembali meningkat dan proyek pembangunan mulai berjalan.

Stabilitas harga batu bara dan crude palm oil atau CPO dunia juga diperkirakan masih dapat menopang sektor ekspor daerah dalam beberapa bulan mendatang.

Di akhir tulisannya, Haryadi menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya soal angka statistik, tetapi juga tentang sejauh mana kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat.

Menurutnya, Jambi memiliki potensi besar dari sisi sumber daya alam, posisi geografis, hingga peluang pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri yang dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan ke depan. (Red/fs)