BerdayaNews.com, Hambalang  – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mengubah wajah ekonomi Indonesia melalui penguatan program hilirisasi. Dalam pertemuan strategis di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Jumat (24/04/2026), Presiden menerima laporan langsung dari Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, agenda utama pertemuan tersebut adalah mengevaluasi progres pembangunan hilirisasi yang tersebar di 13 lokasi kunci di seluruh tanah air. Namun, ada poin krusial yang ditekankan Kepala Negara: hilirisasi tidak boleh lagi hanya “terjebak” di sektor tambang.

“Presiden Prabowo menginginkan bahwa hilirisasi tidak hanya di bidang energi dan mineral, tetapi juga harus diperluas di bidang pertanian dan perikanan,” ujar Teddy dalam keterangan tertulisnya.

Ekspansi ke Sektor Padat Karya dan Pangan Langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas untuk memperkuat ketahanan pangan dan menciptakan lapangan kerja massal. Selain membahas 13 titik industri yang sudah berjalan, pertemuan tersebut mengungkap masuknya minat besar dari investor asing.

Baca juga :  Dari Kriya Tradisi ke Produk Global: Wapres Gibran Dorong UMKM Inovatif Tembus Pasar Dunia di INACRAFT 2026

Investor-investor tersebut dilaporkan membidik sektor Waste to Energy (pengolahan sampah menjadi energi), sumber daya mineral, industri agricultural, hingga sektor padat karya seperti garmen. Ini menjadi sinyal positif bagi penguatan daya saing nasional dari hulu hingga hilir.

Peta Jalan 13 Lokasi Hilirisasi Nasional Pemerintah saat ini tengah memacu nilai tambah di berbagai wilayah guna memastikan Indonesia berhenti mengekspor bahan mentah. Berikut adalah sebaran 13 lokasi hilirisasi utama yang menjadi fokus pembahasan:

1. Wilayah Sumatera

  • Sei Mangkei (Sumut): Transformasi kelapa sawit menjadi oleokimia dan pangan.

  • Tanjung Enim (Sumsel): Gasifikasi batu bara menjadi DME (pengganti LPG).

2. Wilayah Jawa

  • Batang (Jateng): Pusat baterai kendaraan listrik (EV) dan industri kaca.

  • Gresik/JIIPE (Jatim): Rumah bagi smelter tembaga terbesar di dunia.

3. Wilayah Kalimantan

  • KI Hijau Indonesia (Kaltara): Fokus pada aluminium dan petrokimia berbasis energi bersih.

  • Maloy Batuta (Kaltim): Hilirisasi kelapa sawit dan produk kehutanan.

4. Wilayah Sulawesi (Sentral Nikel)

  • Morowali/IMIP (Sulteng) & Konawe (Sultra): Pengolahan nikel menjadi stainless steel dan material baterai.

  • Bantaeng (Sulsel): Pengembangan pengolahan mineral untuk pasar global.

Baca juga :  ASN Jambi Diminta Maksimal Al Haris Tekankan Kinerja Hadapi Tantangan Global

5. Wilayah Maluku & Papua

  • Weda Bay & Pulau Obi (Maluku Utara): Integrasi nikel hingga teknologi HPAL untuk baterai EV.

  • Fakfak & Tangguh (Papua Barat): Hilirisasi pupuk, gas alam cair (LNG), dan petrokimia.

Membangun Fondasi Etik Ekonomi Sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun ekonomi berbasis nilai tambah, arah kebijakan ini tidak hanya soal angka investasi, tetapi juga kedaulatan ekonomi. Dengan memperluas jangkauan ke sektor kelautan dan perkebunan, pemerintah berharap dampak ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan nelayan di pelosok negeri.

Penekanan Presiden pada sektor pertanian dan perikanan menunjukkan bahwa hilirisasi adalah instrumen untuk mencapai keadilan sosial melalui penciptaan ekosistem industri yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Red/fs)