BerdayaNews.com, Wamena — Semangat Natal dan Tahun Baru 2026 diwujudkan melalui aksi nyata solidaritas sosial. Persekutuan Pemuda dan Sekolah Minggu Gereja Baptis Walani Wilayah Hubula menyalurkan bantuan kasih kepada warga pengungsi asal Jemaat GKII Simeria Kroptak, Distrik Kroptak, Kabupaten Nduga, yang saat ini menetap di Musaima, Wamena.

Penyaluran bantuan dilaksanakan pada 30 Desember 2025, pukul 11.00 WIT, dipimpin langsung Ketua Pemuda Gereja Baptis Walani, Rida Wenda, bersama para pemuda dan anak-anak Sekolah Minggu. Bantuan yang diserahkan meliputi bahan makanan pokok (beras, minyak goreng, mi instan), pakaian layak pakai untuk seluruh anggota keluarga—mulai dari orang tua hingga anak-anak—serta kebutuhan pendukung lainnya.

Bantuan kasih tersebut diterima oleh Pdt. Yunus Gwijangge, Ev. Aman Gwijangge, dan Ev. Penus Wandikbo, bersama jemaat pengungsi di Musaima. Momentum ini sekaligus menjadi wujud perayaan Natal dan Tahun Baru yang berorientasi pada kepedulian sosial, khususnya bagi saudara-saudara yang terdampak konflik dan keterbatasan hidup.

“Kami datang dengan satu tujuan: berbagi berkat yang Tuhan percayakan kepada kami sebagai kado Natal. Jangan melihat besar-kecilnya nilai bantuan ini, tetapi lihatlah kasih yang kami bagikan, sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan,” ujar Rida Wenda.
Ia menambahkan, nilai kasih yang lahir dari kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di tengah situasi kemanusiaan di Tanah Papua.

Dalam refleksi Natalnya, Rida menyinggung realitas yang masih dihadapi masyarakat Papua. “Kelahiran Yesus membawa damai, terang, dan sukacita. Namun hari ini, banyak saudara kita masih menangis di tanahnya sendiri. Karena itu, kita dipanggil untuk bangkit, melihat, dan menolong agar damai dan kasih itu sungguh dirasakan.”

Baca juga :  Presiden Prabowo Bahas Stabilitas Politik dan Penguatan Investasi di Istana Merdeka

Pdt. Yunus Gwijangge menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian para pemuda Gereja Baptis Walani. Ia menjelaskan bahwa para pengungsi telah meninggalkan kampung halaman mereka di Nduga sejak 2024 dan kini hidup dalam keterbatasan di Wamena.

“Dalam satu rumah, kami bisa tinggal hingga tujuh kepala keluarga bersama anak-anak. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” tuturnya.

Sementara itu, Ev. Penus Wandikbo mengungkapkan harapan jemaat untuk melanjutkan pembangunan gedung gereja di Musaima. Meski peletakan batu pertama telah dilakukan, keterbatasan bahan bangunan seperti kayu, pasir, semen, dan paku masih menjadi kendala. Ia mengajak seluruh umat untuk mendukung melalui doa dan solidaritas.

Tokoh pemuda Papua, Sepi Wanimbo, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya respons cepat dari gereja dan pemerintah daerah.

“Pembangunan manusia—kesehatan dan pendidikan—harus menjadi prioritas utama. Jika manusia dilemahkan, maka pembangunan fisik tidak akan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti terhambatnya pendidikan generasi muda Ndugama dan berharap pemerintah provinsi serta kabupaten/kota memberi perhatian serius kepada anak-anak yang menjadi korban konflik dan pengungsian.

Menurutnya, bantuan yang disalurkan saat ini masih jauh dari cukup. Ia mendorong gereja di semua tingkatan—sinode, wilayah, klasis, hingga jemaat lokal—untuk bersatu menggerakkan aksi penggalangan dan penyaluran bantuan secara berkelanjutan.

“Saat saudara kita menangis, kita tidak boleh hanya berbicara tentang surga dan neraka. Visi Tuhan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata di mana pun kita berada.”

Kegiatan ini menjadi penegasan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru 2026 bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperkuat persaudaraan, berbagi kasih, dan menyalakan harapan di tengah krisis kemanusiaan.
Bersatu kita kuat, bersatu kita bangkit, dan bersatu kita menentukan masa depan. fs