BerdayaNews.com — Tekanan terhadap Iran saat ini meningkat secara bersamaan dari dalam dan luar negeri. Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya tampak bertekad menggunakan seluruh instrumen kekuatan—ekonomi, keamanan, hingga militer—untuk melemahkan, bahkan menggulingkan, rezim yang dipimpin Ali Khamenei. Namun, pertanyaannya tidak sesederhana “jatuh atau bertahan”. Bagi pembaca Indonesia, dinamika Iran justru menawarkan pelajaran penting tentang geopolitik global, kedaulatan nasional, dan dampak sanksi terhadap rakyat.

Rezim Tertekan, Tapi Belum Runtuh

Di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah, fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Aksi demonstrasi pro-pemerintah dengan jumlah besar menandakan bahwa prediksi Barat soal keruntuhan rezim yang “tinggal menunggu waktu” bisa jadi terlalu dini. Sejarah Iran membuktikan bahwa negara ini memiliki daya tahan politik yang tidak bisa diremehkan, bahkan saat ekonomi terpuruk dan tekanan internasional memuncak.

Ekonomi Rakyat sebagai Titik Lemah

Tak bisa dipungkiri, krisis ekonomi menjadi pemicu utama keresahan publik. Nilai tukar rial jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, inflasi menggerus daya beli, dan kebutuhan dasar makin sulit dijangkau. Akar persoalannya berlapis: dari kelemahan struktural ekonomi, salah urus sumber daya, hingga korupsi—ditambah sanksi Barat yang telah berlangsung puluhan tahun dan mempersempit ruang napas ekonomi nasional. Pada akhirnya, rakyatlah yang menanggung beban paling berat.

Baca juga :  Kisah Bangga dan Harapan Atlet SEA Games saat Terima Apresiasi Presiden Prabowo

Tekanan Eksternal yang Terbuka dan Terang

Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus berdemonstrasi dan “mengambil alih lembaga negara”, sembari mengancam tarif tambahan bagi negara yang masih berdagang dengan Teheran. Di Eropa, pernyataan keras seperti dari Kanselir Jerman menambah tekanan diplomatik. Sementara itu, di Israel, wacana publik dipenuhi ancaman dan skenario serangan militer. Semua ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Iran bukan lagi implisit, melainkan terang-terangan.

Retaknya ‘Poros Perlawanan’

Yang membedakan krisis kali ini dari gelombang protes sebelumnya adalah melemahnya poros regional Iran—jaringan pengaruh di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman yang selama puluhan tahun berfungsi sebagai zona penyangga keamanan. Retaknya poros ini membuat Iran lebih rentan, baik secara strategis maupun psikologis, karena ancaman kini terasa lebih dekat ke jantung negara.

Reformasi atau Penggulingan Total?

Pertanyaan krusialnya: apakah mayoritas rakyat Iran benar-benar menginginkan penggulingan rezim secara total, atau justru mengharapkan reformasi bertahap dan solusi yang dinegosiasikan? Pengalaman protes “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” tahun 2022 menunjukkan bahwa tuntutan masyarakat Iran sering kali lebih kompleks daripada sekadar mengganti rezim—yakni soal keadilan ekonomi, kebebasan sipil, dan pemerintahan yang lebih responsif.

Baca juga :  Pelantikan Pejabat Bapperida Kota Bekasi, Sekda Tegaskan Penguatan Perencanaan Berbasis Riset dan Inovasi

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi Indonesia, krisis Iran memberi pelajaran strategis. Pertama, sanksi dan tekanan eksternal sering kali lebih menyakiti rakyat daripada elite penguasa. Kedua, stabilitas nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan keamanan, tetapi juga oleh kemampuan negara menjaga kesejahteraan dan kepercayaan publik. Ketiga, di dunia multipolar saat ini, mengandalkan “sekutu besar” seperti Rusia atau China bukan jaminan keselamatan—politik internasional tetap berlandaskan kepentingan, bukan solidaritas.

Tekanan terhadap Iran memang datang dari segala penjuru. Namun, bertahan atau runtuhnya sebuah rezim tidak hanya ditentukan oleh tekanan eksternal, melainkan oleh dinamika internal masyarakatnya sendiri. Iran hari ini berada di persimpangan sejarah: antara bertahan dengan pola lama yang makin rapuh, atau berubah melalui reformasi yang sulit namun mungkin lebih berkelanjutan. Dunia—termasuk Indonesia—perlu melihat krisis ini bukan sekadar sebagai drama Timur Tengah, melainkan sebagai cermin kerasnya politik global di era tekanan dan kepentingan.fs