BerdayaNews.com, Tekhnologi  – Tahun 2025 menandai titik balik sejarah teknologi. Majalah TIME menobatkan para arsitek kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai Tokoh Tahun, seiring AI berubah dari sekadar inovasi laboratorium menjadi infrastruktur global yang memengaruhi ekonomi, geopolitik, dan kehidupan sehari-hari.

Salah satu figur sentralnya adalah Jensen Huang, pendiri dan CEO NVIDIA. Perusahaannya kini menjadi tulang punggung revolusi AI lewat chip komputasi berperforma tinggi yang menggerakkan pusat data di seluruh dunia. Dari awalnya fokus pada grafis gim, Nvidia menjelma menjadi raksasa teknologi dengan valuasi triliunan dolar.

Teknologi di Balik Ledakan AI

AI modern bertumpu pada Large Language Model (LLM)—jaringan saraf yang dilatih dengan data masif untuk memprediksi dan merangkai bahasa. Aplikasi seperti OpenAI dengan ChatGPT telah menembus ratusan juta pengguna mingguan, dimanfaatkan untuk menulis kode, riset ilmiah, hingga industri kreatif.
Terobosan terbaru memungkinkan model “bernalar” lebih lama sebelum menjawab, meningkatkan akurasi namun menuntut daya komputasi besar—dan di sinilah chip AI menjadi komoditas strategis.

Baca juga :  Dari Warisan Kolonial ke Sistem Modern: Membaca Ulang KUHAP Menuju 2026

Manfaat Nyata bagi Dunia

  • Produktivitas melonjak: otomatisasi pekerjaan, riset lebih cepat, biaya operasional turun.

  • Inovasi lintas sektor: kesehatan, pendidikan, energi, dan transportasi cerdas.

  • Daya saing nasional: AI menjadi aset geopolitik baru, setara infrastruktur strategis.

Efek Negatif & Risiko

Namun, laju cepat AI membawa konsekuensi serius:

  • Ketimpangan ekonomi akibat otomatisasi kerja.

  • Konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi.

  • Ancaman etika & keamanan: misinformasi, pelanggaran privasi, hingga risiko sistemik jika AI disalahgunakan.
    Tokoh-tokoh seperti Sam Altman dan Elon Musk sendiri mengingatkan bahwa tanpa tata kelola, AI dapat memicu dampak tak terduga.

Perebutan Kuasa Global

Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara maju lainnya kini berlomba membangun pusat data, melonggarkan regulasi, dan menanamkan AI ke hampir semua produk—dari media sosial hingga sistem pertahanan. AI pun muncul sebagai alat geopolitik paling berpengaruh sejak era senjata nuklir.

AI di tahun 2025 bukan lagi masa depan—ia adalah realitas yang sedang membentuk ulang dunia. Manfaatnya menjanjikan kemajuan besar, tetapi risikonya menuntut kebijakan cerdas dan tanggung jawab bersama. Tantangannya kini bukan seberapa cepat AI berkembang, melainkan seberapa bijak manusia mengendalikannya.fs