BerdayaNews.com, Wamena, Papua Pegunungan — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau Pasar Potikelek, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (14/1/2026). Kunjungan ini menegaskan dukungan negara terhadap mama-mama pedagang—penopang ekonomi keluarga sekaligus penjaga nilai budaya lokal yang berkontribusi pada kesejahteraan bangsa.

Setibanya di pasar, Wapres disambut hangat oleh Bupati Jayawijaya Athenius Mirip, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Jayawijaya Alpius, serta Kepala Pasar Potikelek Yuanita Gombo. Nuansa budaya kental terasa saat mama-mama pedagang memakaikan topi adat kepada Wapres—simbol penghormatan sekaligus penanda kuatnya akar tradisi di ruang ekonomi rakyat.

Pasar Rakyat, Jantung Budaya dan Ekonomi

Pasar Potikelek adalah pasar tradisional yang menampung ratusan pedagang dengan komoditas utama sayur-mayur, buah-buahan, serta kerajinan lokal. Di sinilah ekonomi berjalan beriringan dengan budaya: hasil kebun lokal, noken, madu, dan kerajinan tangan berpindah tangan setiap hari, menghidupi keluarga dan menjaga identitas Papua tetap hidup.

Dalam dialog langsung, Wapres menyerap aspirasi pedagang dan pengunjung. Pemerintah daerah, kata Kepala Disperindagkop Alpius, terus menjaga stabilitas pasokan dan harga. “Jumlah pedagang di atas seratus orang. Pasar selalu ramai dan menjadi titik temu penjual-pembeli dari berbagai distrik,” ujarnya. Ia menambahkan, inflasi Jayawijaya berada di kisaran 3,1–3,2 persen, menandakan perputaran ekonomi rakyat yang terkendali.

Baca juga :  Pemkot Bekasi Sosialisasikan Layanan Kegawatdaruratan Call Center Patriot Siaga 112 di Kecamatan Jatiasih

Budaya yang Menghidupi

Bagi mama-mama pedagang, pasar bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang pewarisan nilai. Serpina Pekade, pedagang kerajinan khas Papua, menuturkan noken dari kulit kayu, topi, tas, dan baju yang ia jual semuanya dibuat tangan sendiri. “Dari hasil jualan ini saya bisa sekolahkan anak-anak sampai kuliah,” katanya. Satu noken, ia jelaskan, bisa dikerjakan 1–3 bulan, bahkan hingga 5 bulan—sebuah proses yang mencerminkan kesabaran dan ketekunan budaya.

Mama Nyora, pedagang sayur, merasakan langsung dampak ekonomi pasar rakyat. “Kalau jualan ramai, kami bisa beli beras, minyak, bawang, dan kebutuhan lain untuk keluarga,” ujarnya.

Pasar Inklusif, Bangsa Mandiri

Pengunjung pasar, Suryani (43), warga Toraja yang telah 14 tahun menetap di Wamena, menilai Pasar Potikelek sebagai pilihan utama kebutuhan harian. “Sayur dan buah lengkap, kerajinan khas Papua juga ada. Harapannya mama-mama pedagang terus diperhatikan,” ucapnya.

Pasar Potikelek terdiri dari empat los—kerajinan dan madu, buah-buahan, sayur/hipere, serta daun/hipere—dan sekitar 60 kios dengan lebih dari 100 pedagang. Rencana pengembangan ke depan diharapkan memodernisasi sarana tanpa menghilangkan ciri pasar rakyat, sehingga budaya tetap terjaga dan pendapatan meningkat.

Baca juga :  Di APEC 2025, Presiden Prabowo Tegaskan Pemanfaatan AI Jadi Kunci Atasi Kemiskinan dan Wujudkan Swasembada Pangan

Kunjungan Wapres Gibran mengirim pesan kuat: pemeliharaan budaya bukan romantika masa lalu, melainkan strategi masa depan. Ketika mama-mama Papua diberdayakan, ekonomi keluarga menguat; ketika pasar rakyat dilindungi, identitas lokal lestari. Di titik temu itulah, kesejahteraan tumbuh dan bangsa menjadi lebih mandiri.fs